![]() |
| Ilustrasi Seumapa: Sumber Foto Internet |
Budaya seumapa (berbalas pantun, red) sudah ada
di Aceh sejak masa kerajaan. Namun, ada beberapa wilayah, budaya itu sudah
mulai jarang digunakan.
“Untuk Pantai Timur, budaya seumapa itu sudah jarang digunakan
sedangkan untuk Pantai Barat dan Selatan itu masih tetap dilestarikan. Lazimnya
budaya itu digunakan pada acara-acara sakral seperti acara penyerahan linto baro (mempelai pria, red) ke rumah
dara baro (mempelai wanita, red),”
kata M Adli Abdullah kepada Auto Bisnis, Sabtu
pekan lalu .
Dikatakan dia, pengaruh sejumlah daerah
menanggalkan budaya seumapa ini karena masyarakat menginginkan hal-hal
yang praktis saat acara sakral berlangsung seperti berpidato saat melaksanakan
sesuatu. “Mungkin mereka beranggapan, seumapa
ini membutuhkan waktu banyak,” jelas M Adli.
Senada dengan itu, praktisi Seumapa Aceh, Muhammad
Dyah Husen mengatakan, budaya tersebut
memang masih digunakan tapi sudah mulai punah karena generasi muda Aceh
sekarang sudah kurang menyukai budaya yang digalakkan oleh Indatu (Nenek Moyang, red) Aceh dahulu. Karena itu, lanjut dia, budaya ini harus
tetap dilestarikan karena seumapa adalah
salah satu identitas Aceh.
“Ada beberapa pengaruh budaya ini sudah mulai
ditinggalkan yakni, pengaruh konflik,
internet, globalisasi dan tidak ada kepedulian dari Pemerintah Aceh,” kata
Medya Hus sapaan untuk Muhammad Dyah Husen
Untuk itu, lanjut dia, Pemerintah Aceh harus
melestarikan budaya seperti ini agar nilai-nilai Aceh akan tetap terjaga. Di Jawa
dan Padang, hal-hal yang adahubungan
dengan budaya, mereka sangat menjaga dengan baik agar peradaban mereka bisa
dilihat oleh orang lain, jelas Medya Hus.
“Harapan saya, agar
budaya-budaya ke Acehan tidak hilang maka Pemerintah Aceh perlu memasukkan hal
ini ke dalam kurikulum pendidikan untuk setiap sekolah di Aceh melalui
pelajaran muatan lokal,”saran dia

0 Komentar untuk "Seumapa, Warisan Budaya Indatu"