-->
Motivasi Menulis

Berharaplah Pada Allah (1) --Edisi Bersambung


 
Sumber Foto : Internet
Terik matahari sangat menyengat, semangat siswa belajar Bahasa di kampong inggris (Pare) terlihat sangat antusias meskipun beberapa dari mereka belajar di area bebas—di bawah pepohonan ( tanpa ada bangunan seperti sekolah biasa, red). Tak ada rasa minder bagi para siswa walaupun secara formal pendidikan mereka lebih unggul dibandingkan tutor (guru) yang mengajar mereka.  Tepat pukul 10.30 saya baru saja menyelesaikan belajar bahasa inggris kelas speaking. Kelas yang diasuh oleh Mr Aziz membuat saya dan teman-teman begitu tertarik untuk mendalaminya, metode pengajaran yang mudah dipahami menjadi alasan untuk terus di asah dan diperdalam ilmu berbicara itu. Salah satu diantaranya adalah berbicara dalam bahasa inggris tanpa terpaku pada grammar. Sepuluh menit Mr Aziz meninggalkan kelas, lalu saya juga berpamitan pada teman-teman untuk balik ke camp (tempat tinggal/kost Bahasa wajib berbahasa inggris, red) untuk beristirahat sejenak.
Sesaat setelah merebahkan badan ke lantai, saya kemudian teringat bahwa hari ini adalah pengumuman tentang penerimaan/kelulusan calon mahasiswa magister tahun ajaran 2014/2015. Tanpa menunggu lama, saya kemudian langsung keluar dan mengambil sepeda (sepeda pancal) yang sudah terpakir dekat pintu kamar menuju ke warung internet (warnet).  Hanya terpaut sekira 300 meter saya menemukan sebuah warnet. Para pelanggan mulai dari warga dan para siswa yang belajar bahasa banyak menggunakan fasilitas pada warung tersebut. Setelah dipersilahkan, saya kemudian menuju ke billing nomor tiga.  
 
******     
Hiruk pikuk kenderaan dan lalu lalang para siswa di depan warnet itu sangat padat, kerasnya dan tingginya intesitas suara klakson menjadi salah satu tanda yang digunakan. Meski demikian para pemakai fasilitas seolah tak peduli akan suara itu.
Setelah membuka website yang sudah sangat saya hafal kemudian saya menemukan tulisan tentang “pengumuman kelulusan calon mahasiswa magister untuk jalur mandiri tahun ajaran 2014/2015” dalam form PDF. Saya merasa deg-deg an setelah meng- klik pada halaman unduhan, sebuah dokumen kemudian ditransfer ke dalam folder unduhan yang terdapat pada part C. Setelah proses downloadnya dilakukan secara sempurna, kemudia saya mencari folder tersebut dan sesaah  dokumen hendak dibuka, nurani berontak antara buka dan tidak. Meskipun demikian saya tetap berharap bisa lulus dan saya juga harus qanaah dan berserah diri pada Allah meski nama saya tidak akan tercantum dalam list  mahasiswa yang lulus
 
“klik, klick. Setelah dua kali saya kali kemudian dokumen tersebut terbuka. “Berikut daftar nama calon mahasiswa/mahasiswi yang lulus tahun ajaran 2014/2014”. Terdapat banyak nama mahasiswa yang lulus dengan berbagai bidang di dalammnya. Bidang saya terdapat pada lembaran ke 12, satu persatu list nama mahasiswa yang lulus saya periksa.
 
***
Hari itu terasa sangat istimera bagi saya. Sebab pada hari menjadi hari pertama saya berstatus sebagai calon mahasiswa pada salah satu kampus favorit dan bergengsi di Indonesia. Kampus yang terletak di sebelah timur kota Surabaya biasanya kampus dikenal dengan kampus perjuangan[1]. Pada umumnya mahasiswa yang sekolah ke kampus tersebut memiliki kecerdasan di atas rata-rata dan penghasilan orang tua yang mumpuni. Terdapat empat level pendidikan yang tersedia pada kampus tersebut yaitu, diploma, sarjana, magister dan doctor.
 
Saya terkejut nama saya berada pada posisi ke lima dari 15 nama yang terdapat dalam list tersebut untuk bidang saya.  “Alhamdulillah, “ucap saya dalam hati. Surat tersebut yang diakhiri dengan tanda tangan rector dan ketua pasca tertanggal 3 September 2014. Setelah saya copy ke flashdisk kemudian saya kembali ke camp.
Saya yang mengambil pendidikan magister teknik elektro awalnya merasa tidak begitu yakin bisa sekolah pada kampus itu mengingat kemampuan dan pendidikan yang saya peroleh selama ini masih sangat minim[2].
 
Saya sungguh sangat terperanjak ketika melihat satu persatu list nama yang lulus pada SK itu, nama Anto Agusrianto[3] tidak tercantum dalam SK tersebut. Padahal ketika kami diwawancara dua bulan lalu, ia lebih lancar dan percaya diri dibandingkan saya, ia bahkan sangat optimis akan bisa kuliah di kampus tersebut. Betapa tidak, ia memiliki banyak kelebihan dibandingkan saya misalnya kualitas pendidikan sarjana yang ia dapatkan jauh lebih baik, nilai (Ipk) yang diperoleh juga jauh dibandingkan saya. Begitu juga dengan nilai TPA[4] dan Toefl[5] jauh lebih tinggi dari saya dan standars yang dibuat oleh pihak kampus. Tetapi apa hendak dikata, “rizki, pertemuan, maut dan jodoh”, itu mutlak urusan sang khalik[6] meskipun kita memiliki keunggulan dari berbagai sisi. Semenjak itu, keyakinan saya semakin bertambah bahwa pertolongan Allah lebih dari segala kemampuan yang dimiliki oleh seorang hamba meskipun ia unggul segalanya di atas kertas.
 
 
 
 
 

[2] Banyak menghabiskan waktu dalam pekerjaan untuk menghidupi dan membiayai pendididkan.
[3] Teman saya
[6] Allah Swt, Pencipta Alam Semesta
x
x

SEKOLAH UMUM BERBASIS ISLAM


Ilustrasi, Sumber Internet
“Dilarang masuk, wanita bercelana ketat/jean,  dan lelaki bercelana pendek/merokok,” itulah tulisan yang terpasang di depan pintu pagar masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) 11 Banda Aceh.  Sekolah yang terletak di Gampong Blang Cut, Kecamatan Lueng Bata merupakan sekolah umum yang berbasis islami.

Di tempat ini, para siswa diharuskan untuk mengikuti program beut beungoh (pengajian qur’an pagi hari,red) yang telah diterapkan. Program yang telah berlangsung sejak lama ini, dilakukan sebelum proses belajar mengajar dimulai .  Melalui pengeras suara, murid-murid itu dibimbing oleh utusan yang telah didelagasikan sebelumnya ke Mushalla.

“Kurang lebih sekitar 15 menit waktu yang dihabiskan untuk pengajian ini,” kata Kepala Sekolah SMA 11 Banda Aceh, Muhibbul Khibri,  beberapa pekan lalu.
  
Program ini, lanjut dia,  salah satu upaya yang dilakukan pihak sekolah dalam menanamkan nilai keislaman bagi siswa/siswi yang belajar disini. Program ini  sudah berlangsung sejak lama ini mulai diterapkan secara disiplin dan terorganisir pada 2012.

Sekolah yang  berdiri didirikan sembilan tahun silam juga memiliki klub zikir.  Mereka telah diundang ke berbagai tempat di Banda Aceh da Aceh Besar.

Pemisahan Kelas Belajar

Sekolah yang berdiri di atas tanah 8000  meter2  ini  memiliki 21 kelas ini. Saat belajar, antara murid putra dan putri dipisah ruangan belajarnya.  Proses pemisahan ini  sudah dimulai sejak awal  berdirinya sekolah, saat itu awal pertama penerapan syariat islam di Banda Aceh,ujar dia.  


“Awalpenerapannya memang susah tapi setelah diberi pemahaman, Alhamddulillah para siswa sudah mulai paham dan melaksanakannya," kata Muhibbul Khibri.


Dia menerangkan, kunci keberahasilan dalam menerapkan aturan itu adalah, adanya pembiasaan kepada siswa-siswi yang baru masuk, dan  dari pembiasaan itu, nantinya mereka akan mulai terbiasa.  Aturan ini perlu ditanamkan kepada siswa sejak dini sehingga ke depan mereka akan terbiasa dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya, lanjut dia.

Karena itu, jika nilai seperti ini tidak ditanamkan mulai sekarang, ke depan akan sulit mencari generasi yang tertanam nilai-nilai yang baik,” terang dia. Dalam pelaksanaan, awalnya pihaknya mengaku sulit menjalankannya, namun karena orang tua sangat mendukung program ini menjadi mudah.

Muhibbul menjelaskan, supaya aturan ini berjalan baik, saat para siswa  mendaftar ke sekolah tersebut , pihak sekolah telah mensosialisasikan aturaan ini untuk mereka sehingga tidak ada alasan untuk melanggar. "Jika mereka sepakat dengan aturan yang berlaku, maka  si siswa akan belajar di sini,” ujar kepala SMA 11 ini.

Tidak hanya itu, agar aturan tersebut berjalan maksimal, setiap kelas juga ditempelkan tentang aturan-aturan dan sanksi bagi pelanggar aturan yang telah disosialisasikan saat masuk.  Ini bertujuan untuk
membangun kesadaran siswa dan pembentukan aqidah para siswa, katanya

Awalnya  memang susah mengatur sekolah seperti ini karena ada siswa-siswa yang membandel meski sudah disosialisakan aturan. Namun karena  aturan dan sanksi sudah ditempelkan, mereka tinggal melihat saja, sanksi apa untu mereka dari setiap kesalahan yang dilakukan, ujar Muhibbul. 

"Banyak kendala memang, karena ini sudah sepakat, jadi wajib dilaksanakan,” kata dia.

Muhibbul menambahkan, program pemisahan kelas ini juga sangat didukung oleh orang tua siswa dan tokoh-tokok masyarakat sehingga memudahkan pihaknya dalam menerapkannya. “ Upaya seperti ini salah satu cara untuk membentuk moral siswa, makanya banyak yang dukung,” papar Muhibbul.

Unggul di Bidang Akademik
Selain unggul di bidang agama, SMA 11 Banda Aceh ini juga unggul di bidang akademik, dimana para lulusan di sini kebanyakan bisa menargetkan kuliah ke sejumlah universitas negeri.  Untuk menciptakan keunggulan itu, sekolah ini dibarengi oleh memiliki kelengkapan fasilitas seperi, labotarium Fisika, Kimia dan Bahasa.  Selain itu, untuk menunjang akademik di sekoolah ini, para guru-guru di sekolah ini umumnya sudah bergelar master.

Lubang Sejarah Kerajaan Linge

Istana Kerajaan Linge
Sebuah papan penunjuk arah menjadi penanda masuk ke sebuah makam kuno. “18 kilometer meuju Makam Raja Linge”. Di atasnya tertulis, “bangsa yang besar, bangsa yang menghargai sejarahnya”. Papan petunjuk itu saya jumpai setelah melalui perjalanan di atas aspal mulus jalan negara dari Kota Takengon, Aceh Tengah, sekira 60 kilometer, menuju Kota Blangkejeren, Gayolues.
            Perubahan drastis langsung terasa. Kijang Inova yang tadinya meluncur mulus, kini harus membatasi kecepatan kalau tak mau seluruh penumpang terguncang keras. Fauzan, sopir yang setia mengantarkan kami dari Bandaaceh, harus ekstracermat memilih “lubang” yang bakal dilalui, karena memang tak ada ruas jalan yang rata. Tubuhnya mencondong ke depan. Tangannya mencengkram setir. Hampir tak ada senyum di wajahnya membayangkan 18 kilometer perjalanan yang sungguh tak mengenakkan. “Harusnya kita naik double cabin atau jeep,” ujarnya.

Promosi Melalui Miniatur

Miniatur. Sumber: Internet
Banyak peluang bisnis yang belum digarap oleh masyarakat Aceh, salah-satunya adalah miniatur benda-benda bersejarah. Jika ini dikelola dengan baik, sektor ini mampu mendapatkan omzet puluhan juta rupiah.

Seumapa, Warisan Budaya Indatu

Ilustrasi Seumapa: Sumber Foto Internet
Budaya seumapa (berbalas pantun, red) sudah ada di Aceh sejak masa kerajaan. Namun, ada beberapa wilayah, budaya itu sudah mulai jarang digunakan.
“Untuk Pantai Timur, budaya seumapa itu sudah jarang digunakan sedangkan untuk Pantai Barat dan Selatan itu masih tetap dilestarikan. Lazimnya budaya itu digunakan pada acara-acara sakral seperti acara penyerahan linto baro (mempelai pria, red) ke rumah dara baro (mempelai wanita, red),” kata M Adli Abdullah kepada Auto Bisnis, Sabtu pekan lalu .
Back To Top