![]() |
| Ilustrasi Dayah |
Di atas tanah seluas 4000 m2, beberapa bangunan berdiri kokoh. Dua diantaranya berbentuk balai, yang lainnya sudah dibangun permanen yang telah disekat-sekat. Tak jauh dari plang nama berdekatan dengan pintu masuk, sebuah balai terlihat sederhana. Luasnya sebesar 15 x 8 meter, beralaskan papan. Pada tiga sisi dinding, lebih setengahnya dibiarkan hampar. Sedangkan pada sisi tempat duduk guru, dibuat tertutup.
Setiap malam Jum’at, ratusan masyarakat menghadiri pengajian di balai itu. Pengajian yang diasuh oleh Tgk H Syukri Muhammad Daud telah berlangsung lama. “Alhamdulillah, para santri di sini terdiri beragam usia, dan berasal dari berbagai kampung yang ada di Kawasan Banda Aceh,” katanya kepada Tabloid Banda Aceh Madani, Rabu pekan lalu.
Disebutkan dia, pengajian yang digelar pada malam Jumat adalah pengajian terbuka untuk masyarakat umum yang ingin belajar dan mendalami ilmu agama.
Tgk H Syukri Muhammad Daud adalah Pimpinan Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyah yang berlokasi di Kampung Pango, Kecamatan Ulee Kareng. Ia juga merupakan warga kampung tersebut. Setiap hari, selain mengajar di pesantren, dia juga mengajar dan berda’wah ke sejumlah jamaah-jamaah masjid yang tersebar di berbagai tempat Kota Banda Aceh.
“Terkadang, saya juga memberi pengajian di beberapa instansi pemerintah dan swasta,” kata dia.
Da’wah tersebut baru dimulai setelah pulang menuntut ilmu agama di dayah Pesantren/Dayah Darussalam, Labuhan Haji, Aceh Selatan. Dengan berbekal ilmu agama itu, awalnya dia memulai da’wah di pesantren yang dibangun sejak 2005.
“Setelah bangunan ini selesai, awalnya para santri yang belajar di sini adalah anak-anak yang masih berusia tingkat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama,” ujar Alumnni Dayah Darussalam, Labuhan Haji ini.
Namun, dengan semangat da’wah yang dimilikinya, perlahan-lahan dayah yang dibangunkannya itu mulai dikenal oleh masyarakat. Alhamdulillah, satu demi satu sudah mulai berdatangan.
Selain pengajian untuk masyarakat umum, Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyah kini sudah menjalankan kurikulum-kurikulum seperti dayah di Aceh lainnya.
“Bagi santri-santri yang belajar sesuai kurikulum itu setiap malam mereka wajib mengikuti pengajian. Namun kelasnya berbeda-beda,” sebut dia.
Dijelaskan dia, untuk santri yang masih belajar tingkat sekolah dasar, maka pelajaran yang diberikan adalah, membaca al-quran, tajwid, dan tentang tata cara shalat. Bagi santri tingkatan SMP, pengajianya sudah mengggunakan kitab-kitab, namuan berbahasa melayu. “Untuk mereka juga sudah diajarkan tiga ilmu yakni, aqidah, fiqh dan akhlak,” ujar dia.
Sedangkan untuk santri tingkatan SMA, kitab yang diajarkan masih meliputi tiga ilmu, namun sudah dalam bahasa arab. “Adapun kitab-kitab yang dipelajari oleh mereka adalah, matan takrib, jurumiyah, awamil, dhammon, dan sejumlah lainnya,” kata dia.
Untuk tingkatan mahasiswa, kitab yang diajarkan juga berbahasa arab, namun sudah lebih tinggi lagi, diantaranya; Al Bajuri, tijan darari, tashil, mukhtasar, ta’alimul muta’alimun dan sirus salikin.
****
Kini, dengan semangat yang dimiliki Tgk H Syukri Muhammad Daud, Dayah Raudhatul Hikmah Al-Waliyah yang telah berdiri delapan tahun silam ini, diharapkan mampu melahirkan penda’wah baru yang handal, agar mampu menerangi masyarakat awam yang kekurangan imu agama islam.
Labels:
dayah,
islam,
kisah islam,
motivasi,
religius
Thanks for reading Semangat Da’wah dari Pango. Please share...!

0 Komentar untuk "Semangat Da’wah dari Pango"