-->
Motivasi Menulis
Jejak Masjid Tgk Dipucok Krueng

Jejak Masjid Tgk Dipucok Krueng



Meureudu adalah ibukota Kabupaten Pidie Jaya. Kabupaten tersebut terbentuk pada 2 Januari 2007 berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2007. Pidie Jaya memiliki delapan kecamatan, 34 mukim dan 221 gampong.

Pidie Jaya yang berbatasan di sebelah Utara dengan Selat Malaka, Timur dengan Kabupaten Bireuen,Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pidie (Tangse, Geumpang dan Mane) dan Barat berbatasan dengan Kecamatan Geuleumpang Tiga, Kabupaten Pidie memiliki potensi pariwisata yang sangat bagus.  Secara Pidie Jaya memiliki sebanyak 46 obyek wisata yang terdiri dari 17 obyek wisata alam, 33 obyek wisata budaya.

Semasa kerajaan Aceh, Meureudu pernah dicalonkan sebagai ibu kota Kerajaan Aceh.  Akibat konspirasi politik kerajaan, rencana tersebut digagalkan. Meski bukan sebagai ibukota Kerajaan, Mereudu kala itu sangat diistimewakan karean bebas dari berbagai aturan. Hal ini bukan berarti wilayah tersebut bebas dari kewajibannya. Tugas sebagai penyediaan logistik untuk kebutuhan kerajaan Aceh berhasil laksanakan.


Sebelum melakukan penyerangan ke Semenanjung Melayu, Sultan Iskandar Muda singgah di Mereudu untuk menjumpai sejumlah tokoh di wilayah itu. Beliau mengangkat Malem Dagang dan Teungku Japakeh sebagai pimpinan perang tersebut. Dan, mereka berhasil menaklukkannya.

Mesjid Teungku Dipucok Krueng

Kini, Meureudu sudah menjadi pusat pemerintahan kabupaten Pidie Jaya.  Di beberapa tempat, ada peninggalan-peninggalan sejarah yang masih terisisa dan bisa dikunjungi. Sekitar tiga kilometer dari pusat pemerintahan Pidie Jaya, sebuah masjid tua yang kubahnya menyerupai seperti kubah sejumlah mesjid di Madinah, Arab Saudi. Masjid itu terletak di Simpang Beuracan, Gampong Kuta Trieng.

Masjid itu dinamakan sebagai mesjid Tgk Dipucok Krueng dan dibangun oleh Tgk Abdussalim diatas tanah wakaf milik warga. Beliau merupakan salah satu warga Arab Saudi yang ingin menyiarkan Islam di Aceh semasa kerajaan Iskandar Muda, kata Tgk Ismail bilal mesjid Tgk Dipucok Krueng beberapa waktu lalu.


Menurut dia, penamaan mesjid itu diberikan karena Tgk Abdussalim ketika itu menetap di Pucok Krueng (pucuk sungai) Beuracan, disana beliau juga bermunajat kepada ALLAH. Ketika Jumat, beliau turun ke Mesjid untuk menunaikan kewajibannya, sebut dia. Di kompleks sebuah guci besar yang terisi air.

“Meski saat diisi air itu kotor, namun setelah diambil kembali ke dalamnya, airnya sudah sangat jernih,” kata Khaidir, salah seorang warga disana. Guci tersebut kini tertanam dia dalam tanah, hanya bagian leher dan mulut gucinya yang nampak,  namun kain putih dipasang sebagai pembatas dan kain penutup tersebut.

Tgk Abdussalim merupakan salah seorang ulama besar, untuk membangun masjid tersebut beliau juga membuka lahan persawahan seluas 50 hektar dan tanah perkebunan di lingkungan mesjid seluas 6 hektar, yang hasilnya digunakan untuk membiayai pembangunan masjid.

Masjid Tgk Dipucok Krueng,  memiliki tiga atap tumpang yang terbuat dari seng, dinding yang terbuat dari kayu-kayu. Kini kayu-kayu aslinya sudah diganti dengan kayu lain yang diukir dengan motif Aceh.

Sebanyak 16 tiang digunakan sebagai penopang atap bagian atas. Masing-masing tiang tersebut berbentuk segi delapan dan satu buah tiang. Lantainya terbuat dari semen ditambah gapu dan manisan.

Pada sisi barat bangunan inti terdapat bagian yang menjorok keluar ynag difungsikan sebagai mihrab. Di dalamnya terdapat sebuah mimbar dari tembok semen dengan cat putih dan atap dari tirap/kayu dengan pola hias sulur-suluran dan bunga. Didalamnya juga terdapat sebuah bedug yang terbuat dari kulit sapi dan batang pohon lontar. Bedug itu biasanya digunakan ketika Ramadhan tiba.

Selain membangun mesjid di Beuracan, Tgk Abdussalim juga membangun empat mesjid lain, diantaranya; masjid Tgk Dipucok Krueng, masjid  Kuta Batei, mesjid Madinah dan mesjid di Lampoh Saka Kabupaten Pidie.

Penulis : Teuku Multazam

Semangat Mensyiarkan Islam

Ilusttrasi Tsunami Aceh. Sumber Foto: Internet

Tiga bulan setelah tsunami menerjang Lamtemen, Tgk Muhibban bersama warga kembali ke perkampungannya. Puluhan mayat masih terlihat di bawah puing-puing bekas rerutuhan dan hempasan ombak ganas itu, balai pengajian tempat ia mensyiarkan ilmu agama juga ikut menjadi lampiasan gelombang tsunami.  Sambil mengelilingi lokasi,  ia menemukan kitab-kitab dan yasinan yang selama ini digunakan dirinya bersama para santri terlihat masih utuh walau berada di bawah tumpukan sampah-sampah yang di bawa oleh bencana tsunami.

“Subhanallah, ketika itu perasaan saya sangat senang  melihat kitab tidak rusak sedikitpun,” kenang Tgk H Muhibban H M Ajad.

Berawal dari penemuan itulah, semangat untuk menghidupkan dayah  itu kembali  muncul 
dalam  benak dirinya. Lalu, ia mengajak beberapa santri dan para warga untuk membersihkan lokasi itu, selang tujuh bulan bencana tsunami menerjang itu, dayah ini sudah mulai aktif kembali.

“Pasca tsunami, ada 36 santri kembali belajar sejak dayah kembali aktif, namun mereka harus pulang pergi dari tempat pengajian ke pengungsian,”ujar Pimpinan Dayah Mabda’ul Ulum,  Tgk H Muhibban H M Ajad kepada Tabloid Banda Aceh Madani beberapa pekan lalu.

Setelah masa tanggap darurat selesai, Tgk Muhibban bersama masyarakat kembali ke kampung halamannya, mereka bersama para santri-santrinya perlahan membangun kembali dayah itu.   Kini, Dayah Mabdau’ul Ulum itu kembali beraktifitas seperti sedia kalanya.

Selang lima tahun setelah bencana tsunami itu, dayah tersebut  telah memiliki lahan seluas  2000 m2  , diatasnya itu didirikan enam kelas dan puluhan bilik serta satu buah mushalla. Kesemua bantuan itu bersumber dari bantuan dan wakaf masyarakat, sebut Tgk Muhibban.

“Dayah Mabda’ul Ulum menampung  ratusan santri yang mondok, mereka tersebar dari berbagai wilayah di Aceh, seperti, Aceh Utara, Pidie, Aceh Selatan dan Aceh Besar. “Semua santri itu diajarkan oleh 11 orang teungku (ustadz,red),” jelas Alumni Mudi Mesra Samalanga ini.

Dayah yang sudah berdiri sejak 2003 lalu di Gampong Lamtemen Barat itu memiliki kurikukulum pembelajaran yang jelas dan ketat. Setiap hari, jadwal untuk belajar  pengajian ada tiga waktu yakni, setelah  shalat subuh, shalat ashar dan shalat magrib. “Meskipun mereka ada yang masih kuliah dan sekolah, para santri harus mematuhi aturannya,” tegas Tgk Muhibban.
Pengajian untuk Warga
Tidak hanya bagi santri yang mondok,  Dayah Mabda’ul Ulum juga mengadakan pengajian Majlis Ta’lim untuk masyarakat umum yang ada di Banda Aceh. Kalau untuk kalangan ibu-ibu, pengajiannya dilaksanakan pada Sabtu siang di Mushalla dayah, sedangkan untuk kalangan bapak-bapak digelar pada Rabu malam di Masjid Lamtemen.
“Alhamdulillah, dengan ada dayah ini bisa mentransformasikan sedikit ilmu yang saya dapatkan sebelumnya untuk para masyarakat,” kata Alumni Dayah Mudi Mesra Samalanga ini.
 ****
Kisah pembangunan dayah Mabda’ul Ulum berawal ketika Tgk Muhibban merantau ke Banda Aceh.  Saat itu, beberapa Alumni Dayah Mudi Mesra yang merupakan warga Lamtemen  berjumpa dirinya dan meminta untuk mengajarkan mereka.

“Awalnya proses pembelajaran itu hanya berlansung sesama alumni Samalanga. Tapi, setelah beberapa kabar adanya tersebarlah ke para warga, dan satu-persatu para warga mengikuti pengajian.  “Karena sudah banyak para warga yang ikut mengaji, saya diminta untuk memberikan pengajian pada majlis ta’lim di Masjid Lamtemen ketika itu,” ujar Tgk Muhibban.

Setahun setelah memberikan pengajian di sana, ia meminang salah seorang wanita  yang juga warga di sana. Karena  sudah menetap di Lamtemen,  ia meminta ke pengurus masjid untuk dibangun sebuah balai di samping masjid dan mereka menyetujuinya.

“Sebelum mendirikan dayah ini, selain mengajar  di masjid. Saya juga mengajar di balai pengajian dekat masjid,” kenang Tgk Muhibban.

SEKOLAH UMUM BERBASIS ISLAM


Ilustrasi, Sumber Internet
“Dilarang masuk, wanita bercelana ketat/jean,  dan lelaki bercelana pendek/merokok,” itulah tulisan yang terpasang di depan pintu pagar masuk Sekolah Menengah Atas (SMA) 11 Banda Aceh.  Sekolah yang terletak di Gampong Blang Cut, Kecamatan Lueng Bata merupakan sekolah umum yang berbasis islami.

Di tempat ini, para siswa diharuskan untuk mengikuti program beut beungoh (pengajian qur’an pagi hari,red) yang telah diterapkan. Program yang telah berlangsung sejak lama ini, dilakukan sebelum proses belajar mengajar dimulai .  Melalui pengeras suara, murid-murid itu dibimbing oleh utusan yang telah didelagasikan sebelumnya ke Mushalla.

“Kurang lebih sekitar 15 menit waktu yang dihabiskan untuk pengajian ini,” kata Kepala Sekolah SMA 11 Banda Aceh, Muhibbul Khibri,  beberapa pekan lalu.
  
Program ini, lanjut dia,  salah satu upaya yang dilakukan pihak sekolah dalam menanamkan nilai keislaman bagi siswa/siswi yang belajar disini. Program ini  sudah berlangsung sejak lama ini mulai diterapkan secara disiplin dan terorganisir pada 2012.

Sekolah yang  berdiri didirikan sembilan tahun silam juga memiliki klub zikir.  Mereka telah diundang ke berbagai tempat di Banda Aceh da Aceh Besar.

Pemisahan Kelas Belajar

Sekolah yang berdiri di atas tanah 8000  meter2  ini  memiliki 21 kelas ini. Saat belajar, antara murid putra dan putri dipisah ruangan belajarnya.  Proses pemisahan ini  sudah dimulai sejak awal  berdirinya sekolah, saat itu awal pertama penerapan syariat islam di Banda Aceh,ujar dia.  


“Awalpenerapannya memang susah tapi setelah diberi pemahaman, Alhamddulillah para siswa sudah mulai paham dan melaksanakannya," kata Muhibbul Khibri.


Dia menerangkan, kunci keberahasilan dalam menerapkan aturan itu adalah, adanya pembiasaan kepada siswa-siswi yang baru masuk, dan  dari pembiasaan itu, nantinya mereka akan mulai terbiasa.  Aturan ini perlu ditanamkan kepada siswa sejak dini sehingga ke depan mereka akan terbiasa dalam menjalankan kegiatan sehari-harinya, lanjut dia.

Karena itu, jika nilai seperti ini tidak ditanamkan mulai sekarang, ke depan akan sulit mencari generasi yang tertanam nilai-nilai yang baik,” terang dia. Dalam pelaksanaan, awalnya pihaknya mengaku sulit menjalankannya, namun karena orang tua sangat mendukung program ini menjadi mudah.

Muhibbul menjelaskan, supaya aturan ini berjalan baik, saat para siswa  mendaftar ke sekolah tersebut , pihak sekolah telah mensosialisasikan aturaan ini untuk mereka sehingga tidak ada alasan untuk melanggar. "Jika mereka sepakat dengan aturan yang berlaku, maka  si siswa akan belajar di sini,” ujar kepala SMA 11 ini.

Tidak hanya itu, agar aturan tersebut berjalan maksimal, setiap kelas juga ditempelkan tentang aturan-aturan dan sanksi bagi pelanggar aturan yang telah disosialisasikan saat masuk.  Ini bertujuan untuk
membangun kesadaran siswa dan pembentukan aqidah para siswa, katanya

Awalnya  memang susah mengatur sekolah seperti ini karena ada siswa-siswa yang membandel meski sudah disosialisakan aturan. Namun karena  aturan dan sanksi sudah ditempelkan, mereka tinggal melihat saja, sanksi apa untu mereka dari setiap kesalahan yang dilakukan, ujar Muhibbul. 

"Banyak kendala memang, karena ini sudah sepakat, jadi wajib dilaksanakan,” kata dia.

Muhibbul menambahkan, program pemisahan kelas ini juga sangat didukung oleh orang tua siswa dan tokoh-tokok masyarakat sehingga memudahkan pihaknya dalam menerapkannya. “ Upaya seperti ini salah satu cara untuk membentuk moral siswa, makanya banyak yang dukung,” papar Muhibbul.

Unggul di Bidang Akademik
Selain unggul di bidang agama, SMA 11 Banda Aceh ini juga unggul di bidang akademik, dimana para lulusan di sini kebanyakan bisa menargetkan kuliah ke sejumlah universitas negeri.  Untuk menciptakan keunggulan itu, sekolah ini dibarengi oleh memiliki kelengkapan fasilitas seperi, labotarium Fisika, Kimia dan Bahasa.  Selain itu, untuk menunjang akademik di sekoolah ini, para guru-guru di sekolah ini umumnya sudah bergelar master.

Promosi Melalui Miniatur

Miniatur. Sumber: Internet
Banyak peluang bisnis yang belum digarap oleh masyarakat Aceh, salah-satunya adalah miniatur benda-benda bersejarah. Jika ini dikelola dengan baik, sektor ini mampu mendapatkan omzet puluhan juta rupiah.

Seumapa, Warisan Budaya Indatu

Ilustrasi Seumapa: Sumber Foto Internet
Budaya seumapa (berbalas pantun, red) sudah ada di Aceh sejak masa kerajaan. Namun, ada beberapa wilayah, budaya itu sudah mulai jarang digunakan.
“Untuk Pantai Timur, budaya seumapa itu sudah jarang digunakan sedangkan untuk Pantai Barat dan Selatan itu masih tetap dilestarikan. Lazimnya budaya itu digunakan pada acara-acara sakral seperti acara penyerahan linto baro (mempelai pria, red) ke rumah dara baro (mempelai wanita, red),” kata M Adli Abdullah kepada Auto Bisnis, Sabtu pekan lalu .
Back To Top