| Istana Kerajaan Linge |
Sebuah papan penunjuk arah menjadi
penanda masuk ke sebuah makam kuno. “18 kilometer meuju Makam Raja Linge”. Di
atasnya tertulis, “bangsa yang besar, bangsa yang menghargai sejarahnya”. Papan
petunjuk itu saya jumpai setelah melalui perjalanan di atas aspal mulus jalan
negara dari Kota Takengon, Aceh Tengah, sekira 60 kilometer, menuju Kota
Blangkejeren, Gayolues.
Perubahan
drastis langsung terasa. Kijang Inova yang tadinya meluncur mulus, kini harus
membatasi kecepatan kalau tak mau seluruh penumpang terguncang keras. Fauzan,
sopir yang setia mengantarkan kami dari Bandaaceh, harus ekstracermat memilih
“lubang” yang bakal dilalui, karena memang tak ada ruas jalan yang rata.
Tubuhnya mencondong ke depan. Tangannya mencengkram setir. Hampir tak ada
senyum di wajahnya membayangkan 18 kilometer perjalanan yang sungguh tak
mengenakkan. “Harusnya kita naik double
cabin atau jeep,” ujarnya.
Kondisi
ruas jalan menuju makam Raja Linge belum teraspal. Para peziarah yang
menggunakan kenderaan roda dua dan empat harus berjalan merayap. Debu dan
kerikil yang bertebaran di sepanjang jalan membuat Fauzan meminta seluruh
penumpang menutup rapat-rapat seluruh kaca jendela. Jarum speedometer tak bergerak dari angka 20 kilometer per jam.
Ini
adalah hari kedua perjalanan saya dan teman-teman di Tanah Gayo –dan perjalanan
pertama saya ke daerah Aceh Tengah. Kami berangkat dari Bandaaceh Jumat dua
pekan lalu, seusai salat Jumat. Adli Abdullah, seorang pemerhati sejarah Aceh,
duduk di kursi depan. Dalam perjalanan ini, ia bertugas sebagai “navigator”,
menemani Fauzan. Saya dan dua dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala,
Enzus dan Indra duduk di barisan tengah. dan dan di belakang duduk teman saya,
Sulaiman Tripa, yang juga mengajar di fakultas tersebut. Dalam perjalanan ini,
ia membawa serta istrinya.
Tidak
banyak kenderaan yang memasuki kawasan itu. Hanya dua kendaraan berplat merah
yang sempat berselisih dengan kendaraan kami. Saya juga tak melihat rumah-rumah
penduduk di sepanjang perjalanan. Daerah
itu sama sekali tak menunjukkan jejak sebuah kerajaan besar yang pernah berdiri
di Aceh. Deretan pinus menambah kesunyian di jalan, beberapa hanya tinggal
tunggul karena ditebang. Butuh waktu sekitar satu jam untuk bisa memasuki Dusun
Buntul, Kampung Linge, Kecamatan Linge, tempat jenazah Raja Adi Genali, Raja Linge
pertama dimakamkan.
“Mungkin
kalau hujan, kita bakal tak bisa lewat,” ujar saya yang diiyakan oleh
kawan-kawan yang lain. Tak hanya jalan berlubang dan berdebu, untuk sampai di
sana, kami juga harus melitasi sungai kecil. Tak ada jembatan. Fauzan hati-hati
mengemudikan kendaraan. Ia tak mengurangi kecepatan saat mobil satu gerdang itu
melintasi sungai. Ia takut mobil terjebak lubang di sungai itu.
Akhirnya
kami tiba juga di Buntul. Pinggang terasa pegal. Perjalanan 18 kilometer ini
memang menguras energi dan emosi. Di sana, kami menyingahi sebuah gubuk kecil tempat
keluarga Mat Amin. Mat Amin adalah penjaga Istana Linge dan makan Raja Adi
Genali. Istana yang dijaga Mat Amin berbentuk rumah Aceh berukuran 50x10 meter.
Seluruh tiang dan dinding terbuat dari kayu damar, beratap rumbia. Beberapa
bagian dinding terlihat lapuk. Mat Amin mengoleskan oli bekas ke bagian-bagian
yang lapuk agar tak terus dimakan rayap. Di bagian depan, tertulis Umah Pintu
Ruang.
Di
samping rumah itu terdapat sebuah bangunan kecil. Di dalam bangunan ini,
terdapat dua kuburan. Salah satunya adalah makam anak Raja Adi Genali dan
sebuah sumur, yang konon, kata Mat Amin, airnya tak pernah kering. “Itu kuburan
keramat, dulu pernah mengeluarkan cahaya. Kami menyebutnya makam cahaya,” kata
Keucik Linge Karimansyah, yang berjanji menemani kami selama menziarahi situs
itu.
Menurut Adli Abdullah, Kerajaan
Linge merupakan sebuah kerajaan awal dan berpengaruh di Aceh. Kerajaan Linge
terbentuk sekitar 1025 Masehi (416 Hijriah) yang dipimpin oleh Adi Genali—Kejayaan
Kerajaan Aceh
Darussalam di masa Sultan Iskandar Muda Johan Pahlawan Meukuta Alam berlangsung
pada 1590-1636. Bersamaan dengan itu ia diberi gelar Cik Serule (Paman Serule) karena
membangun kerajaan di Linge. Serule merupakan sebuah perkampungan di kecamatan itu.
Dalam sebuah litelatur yang memuat perbincangan Tengku Hadji Ilyas
Leube (Allahuyarham) disuatu malam
pada 26 Oktober 1976, ditulis Raja Genali adalah seorang
raja Islam berasal dari Turki. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Tengku Kawe
Tepat atau Tengku Kik Betul. Kerajaan ini berlangsung hingga keturunan ke-17.
Kerajaan ini lebih dulu mengenal Islam ketimbang kerajaan lain di
Aceh. Bahkan raja-raja yang memerintah di Aceh merupakan keturunan Raja Linge.
Seperti Meurah Silu adalah Sultan Malikussaleh. Dia merupakan Orang Gayo yang
menyatukan sejumlah kerajaan kecil di daerah Peureulak, yang akhirnya menjadi
Sultan Pertama di Kerajaan Pasai yang berada di daerah Samudera Geudong, Aceh
Utara. Dan Meurah Johan atau Johansyah yang kemudian menjadi Sultan Aceh
Pertama yang memimpin Kesultanan Kute Reje.
Setelah puas memperhatikan istana,
kami pun bergerak naik ke bukit, sekira 600 meter dari istana itu. Tujuan berikutnya
adalah makam Raja Linge. Kami bersemangat kembali. Dorongan rasa ingin tahu
membuat kami menyisihkan sejenak rasa penat. Perjalanan menuju malam tak bisa
dilakukan di atas kendaraan beroda empat. Untuk sampai di makam itu, kami
melintasi hutan lebat yang dibelah jalan setapak. Lagi, kami harus melewati
sebuah alur sungai. Setelah melintasi sungai itu, di hadapan kami, tersusun
ratusan anak tangga purba. “Ayo, sikit
lagi,” kata Sulaiman setelah melihat saya ngos-ngosan.
Saya
seakan tak mempercayai penglihatan saya. Nama besar Raja Linge seolah tak
berbekas di makam itu. Kondisinya sangat memprihatinkan. Tak lebih baik dari
kandang ayam. Sebagian ornamen, di bagian atas dan bawah, copot. Keramik yang
membatasi deretan tujuh kuburan dibuat asal-asal. Di sinilah raja pertama di
Aceh di semayamkan. Namun, tak ada kekhasan di makam itu. Hanya deretan nisan
yang sebagian sudah miring sebagai petunjuk makam sang raja. Kompleks makam itu
sendiri tersuruk di dalam hutan.
Keucik
Karimansyah menyayangkan minimnya perhatian pemerintah setempat. Padahal,
katanya, di sini, bersemayam jenazah seorang raja yang memiliki peran besar di
Aceh. “Banyak orang menziarahi makam raja ini, dari Jakarta, Surabaya, dan
Purbalingga. Tapi pemerintah setempat tak peduli. Kami juga tak mempunyai uang
untuk memperbaiki kuburan ini,” katanya.
Praktis,
untuk biaya perawatan, penjaga kubur dan warga setempat mengandalkan pemberian
para peziarah. Seorang peziarah asal Purbalingga, kata Karimansyah, mengaku
menyayangkan buruknya kondisi makam Raja Linge dan Istana Tujuh Kamar. “Di
sana, makam raja-raja diurus agar orang mau mendatangi dan mengenal asal dan
cerita tentang kerajaan itu,” ujar Karimansyah menirukan perkataan peziarah
tersebut.
Pikiran saya berbalik ke petunjuk arah ke Istana Raja
Linge. Tulisan “bangsa yang besar, bangsa yang menghargai sejarahnya” seolah
menohok. “Apakah kami memang tak menghargai sejarah, sehingga kami tak pernah
menjadi bangsa yang besar?” Pikiran itu terus berkecamuk sepanjang perjalanan
meninggalkan makam Raja Linge dan Istananya yang tak terurus
0 Komentar untuk "Lubang Sejarah Kerajaan Linge"