-->
Motivasi Menulis
Terapi Kesehatan Ala Rasullullah

Terapi Kesehatan Ala Rasullullah


Penulis : Teuku Multazam

Amiruddin cekatan mengeluarkan 12 cangkir plastik transparan dari tasnya. Di hadapannya, seorang lelaki bertubuh gempal duduk bertelanjang dada, ia duduk bersila. Setelah memilih cangkir-cangkir yang sesuai kebutuhannya, ia pun melekatkan sejumlah cangkir di bagian tengkuk, punggung dan kening.

“Awalnya bagian yang sakit kita sedot. Beberapa menit kemudian, gelas-gelas ini kita copot dan mulai membuat lubang di pori-pori dengan jarum. Kemudian, gelas-gelas ini kita pasang lagi di daerah-daerah itu untuk menyedot darah kotor,” kata Amiruddin.

Amiruddin berprofesi sebagai pembekam. Pembekaman adalah proses memantik darah dari badan menggunakan cangkir sedotan hingga kulit bengkak, kemudian bagian tubuh yang bengkak digores dengan benda tajam untuk mengeluarkan darah kotor. Bekam adalah metode pengobatan yang dipraktikkan orang sejak ribuan tahun silam.


Nabi Muhammad saw, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari, menyebut, "kesembuhan itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijamah (bekam), dan dengan besi panas. Dan aku melarang ummatku dengan besi panas.” Tradisi ini dipelajari Amiruddin dan terus dipraktikkannya.

Cangkir-cangkir yang melekat di permukaan kulit menghisap jaringan darah kotor di bawah kulit. Lama setiap hisapan antara 3-5 menit. Maksimal waktu dibutuhkan untuk membuang darah kotor adalah sembilan menit. Setelah disedot, keluar darah dari bekas cucukan jarum halus. “Warnanya macam-macam, tergantung penyakitnya,” ujar Amiruddin. Biasanya, darah kotor yang berwarna kehitam-hitaman. Bila darah kotor tidak mengalir dari pori-pori, itu menandakan penyakit di daerah itu sudah habis. Darah pun berhenti mengalir.

Bekam, atau hijamah adalah teknik penyembuhan dengan cara membuang darah kotor dalam tubuh melalui permukaan kulit. Bekam, kata Amiruddin, bisa dilakukan untuk mengobati penyakit dan pencegahannya. “Untuk kesehatan, idealnya dilakukan sebulan sekali. Namun kalau untuk penyembuhan, sebaiknya dibekam seminggu sekali atau dua minggu sekali.”

Metode pengobatan ini relatif efektif dan murah. Selain itu, bagi ummat muslim, bekam juga dikategorikan sebagai sunnah Rasulullah saw. Di Bandaaceh, sejumlah klinik kesehatan alternatif mulai menggunakan bekam sebagai teknik penyembuhan. Di kawasan Daud Beureuh misalnya, telah dibuka klinik bekam dan rukyah, tradisi mengusir jin dalam tubuh manusia.

      
Menurut Muhammad Arif,  seorang praktisi bekam, dengan manfaat kesehatan besar, bekam memiliki risiko dan efek samping yang sangat sedikit. Sebuah penelitain menunjukkan, teknik pengobatan ini mampu menyembuhkan sekira 72 penyakit. Termasuk sejumlah penyakit yang dinilai mahal pengobatannya, seperti darah tinggi, diabetes, stroke, sakit kepala, kebas, asam urat, dan rematik.

Dalam sekali pengobatan, ungkap Arif, darah kotor yang keluar mencapai dua hingga tiga cangkir bekam. Namun, tambahnya, ia pernah menangani seorang pasien di Pulo Aceh yang mengeluarkan darah kotor hingga lima cangkir bekam.

Sebelum proses pembekaman dimulai, bagian tubuh yang akan dibekam akan dibersihkan dengan cairan khusus. Khusus di bagian yang ditumbuhi bulu dan rambut, seperti kaki dan kepala, bulu-bulu itu harus dicukur terlebih dahulu. Sesuai ajaran Nabi Muhammad saw, ada beberapa titik bekam yang harus dilakukan antara lain, titik punggung, titik tangan dan titik kepala.

Ia juga menyarankan agar pembekaman dilakukan pada waktu-waktu tertentu. “Sebaiknya dilakukan pada pertengahan bulan, karena darah kotor sudah terhimpun dan lebih mudah dirangsang untuk keluar dari tubuh karena darah mencapai puncak gejolak. "Rasulullah saw juga biasa melakukan hijamah pada pelipis dan pundaknya. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, Nabi melakukan bekam pada hari ke-17, ke-19 atau ke-21.”

Pemilihan waktu bekam adalah sebagai tindakan preventif untuk menjaga kesehatan dan penjagaan diri terhadap penyakit. Adapun untuk pengobatan penyakit, maka harus dilakukan kapan pun pada saat dibutuhkan. Ia juga berpesan, “bahwa berbekam dalam keadaan perut kosong itu adalah paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan. Maka disarankan bagi yang hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-3 jam sebelumnya.”

Berbekam juga terbukti secara medis dapat menghilangkan rasa pegal berlebihan pada bahu dan sakit di tenggorokan. Untuk rasa sakit di dua titik itu, pembekaman dilakukan di daerah tengkuk. Rasa sakit di sekitarnya, seperti bagian kepala, muka, sakit gigi, telinga dan hidung, juga dapat disembuhkan, “jika penyakit itu disebabkan oleh terjadinya penyumbatan pada darah atau rusaknya jaringan darah.

Melakukan bekam di bawah dagu dapat menyembuhkan sakit gigi, sakit pada bagian wajah,kerongkongan dan pada urat leher, serta membersihkan kepala dan kedua telapak tangan. Berbekam pada belakang tapak kaki (bagian atas tapak kaki) dapat menggantikan venesection sephena, yaitu urat besar pada mata kaki, menghilangkan kutil-kutil dan borok yang tumbuh di kedua paha, betis serta tulang kering. Dapat menghentikan keluarnya darah haid (terputusnya menstruasi) dan rasa gatal di kulit testis.

Titik lain yang disarankan Arif adalah bekam di titik antara dada dan perut. Ini bisa menyembuhkan bisul, kurap, dan panu. Ada juga bekam kering  tanpa mengeluarkan darah kotor (Hijamah Jaaffah). Berbeda dengan bekam basah,. Bekam kering pertama berkhasiat melegakan sakit secara darurat, atau meringankan kenyerian urat-urat punggung karena rheumatik.

Meskipun terapi bekam ini bisa menyembuhkan penyakit, namun jika pasien mengidap penyakit parah, ia dianjurkan untuk mengonsumsi obat herbal, seperti habbatusaudah, madu dan air zam zam. Tak ada patokan harga. Namun biasanya, mereka menerima imbalan Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.


Semangat Mensyiarkan Islam

Ilusttrasi Tsunami Aceh. Sumber Foto: Internet

Tiga bulan setelah tsunami menerjang Lamtemen, Tgk Muhibban bersama warga kembali ke perkampungannya. Puluhan mayat masih terlihat di bawah puing-puing bekas rerutuhan dan hempasan ombak ganas itu, balai pengajian tempat ia mensyiarkan ilmu agama juga ikut menjadi lampiasan gelombang tsunami.  Sambil mengelilingi lokasi,  ia menemukan kitab-kitab dan yasinan yang selama ini digunakan dirinya bersama para santri terlihat masih utuh walau berada di bawah tumpukan sampah-sampah yang di bawa oleh bencana tsunami.

“Subhanallah, ketika itu perasaan saya sangat senang  melihat kitab tidak rusak sedikitpun,” kenang Tgk H Muhibban H M Ajad.

Berawal dari penemuan itulah, semangat untuk menghidupkan dayah  itu kembali  muncul 
dalam  benak dirinya. Lalu, ia mengajak beberapa santri dan para warga untuk membersihkan lokasi itu, selang tujuh bulan bencana tsunami menerjang itu, dayah ini sudah mulai aktif kembali.

“Pasca tsunami, ada 36 santri kembali belajar sejak dayah kembali aktif, namun mereka harus pulang pergi dari tempat pengajian ke pengungsian,”ujar Pimpinan Dayah Mabda’ul Ulum,  Tgk H Muhibban H M Ajad kepada Tabloid Banda Aceh Madani beberapa pekan lalu.

Setelah masa tanggap darurat selesai, Tgk Muhibban bersama masyarakat kembali ke kampung halamannya, mereka bersama para santri-santrinya perlahan membangun kembali dayah itu.   Kini, Dayah Mabdau’ul Ulum itu kembali beraktifitas seperti sedia kalanya.

Selang lima tahun setelah bencana tsunami itu, dayah tersebut  telah memiliki lahan seluas  2000 m2  , diatasnya itu didirikan enam kelas dan puluhan bilik serta satu buah mushalla. Kesemua bantuan itu bersumber dari bantuan dan wakaf masyarakat, sebut Tgk Muhibban.

“Dayah Mabda’ul Ulum menampung  ratusan santri yang mondok, mereka tersebar dari berbagai wilayah di Aceh, seperti, Aceh Utara, Pidie, Aceh Selatan dan Aceh Besar. “Semua santri itu diajarkan oleh 11 orang teungku (ustadz,red),” jelas Alumni Mudi Mesra Samalanga ini.

Dayah yang sudah berdiri sejak 2003 lalu di Gampong Lamtemen Barat itu memiliki kurikukulum pembelajaran yang jelas dan ketat. Setiap hari, jadwal untuk belajar  pengajian ada tiga waktu yakni, setelah  shalat subuh, shalat ashar dan shalat magrib. “Meskipun mereka ada yang masih kuliah dan sekolah, para santri harus mematuhi aturannya,” tegas Tgk Muhibban.
Pengajian untuk Warga
Tidak hanya bagi santri yang mondok,  Dayah Mabda’ul Ulum juga mengadakan pengajian Majlis Ta’lim untuk masyarakat umum yang ada di Banda Aceh. Kalau untuk kalangan ibu-ibu, pengajiannya dilaksanakan pada Sabtu siang di Mushalla dayah, sedangkan untuk kalangan bapak-bapak digelar pada Rabu malam di Masjid Lamtemen.
“Alhamdulillah, dengan ada dayah ini bisa mentransformasikan sedikit ilmu yang saya dapatkan sebelumnya untuk para masyarakat,” kata Alumni Dayah Mudi Mesra Samalanga ini.
 ****
Kisah pembangunan dayah Mabda’ul Ulum berawal ketika Tgk Muhibban merantau ke Banda Aceh.  Saat itu, beberapa Alumni Dayah Mudi Mesra yang merupakan warga Lamtemen  berjumpa dirinya dan meminta untuk mengajarkan mereka.

“Awalnya proses pembelajaran itu hanya berlansung sesama alumni Samalanga. Tapi, setelah beberapa kabar adanya tersebarlah ke para warga, dan satu-persatu para warga mengikuti pengajian.  “Karena sudah banyak para warga yang ikut mengaji, saya diminta untuk memberikan pengajian pada majlis ta’lim di Masjid Lamtemen ketika itu,” ujar Tgk Muhibban.

Setahun setelah memberikan pengajian di sana, ia meminang salah seorang wanita  yang juga warga di sana. Karena  sudah menetap di Lamtemen,  ia meminta ke pengurus masjid untuk dibangun sebuah balai di samping masjid dan mereka menyetujuinya.

“Sebelum mendirikan dayah ini, selain mengajar  di masjid. Saya juga mengajar di balai pengajian dekat masjid,” kenang Tgk Muhibban.

Lubang Sejarah Kerajaan Linge

Istana Kerajaan Linge
Sebuah papan penunjuk arah menjadi penanda masuk ke sebuah makam kuno. “18 kilometer meuju Makam Raja Linge”. Di atasnya tertulis, “bangsa yang besar, bangsa yang menghargai sejarahnya”. Papan petunjuk itu saya jumpai setelah melalui perjalanan di atas aspal mulus jalan negara dari Kota Takengon, Aceh Tengah, sekira 60 kilometer, menuju Kota Blangkejeren, Gayolues.
            Perubahan drastis langsung terasa. Kijang Inova yang tadinya meluncur mulus, kini harus membatasi kecepatan kalau tak mau seluruh penumpang terguncang keras. Fauzan, sopir yang setia mengantarkan kami dari Bandaaceh, harus ekstracermat memilih “lubang” yang bakal dilalui, karena memang tak ada ruas jalan yang rata. Tubuhnya mencondong ke depan. Tangannya mencengkram setir. Hampir tak ada senyum di wajahnya membayangkan 18 kilometer perjalanan yang sungguh tak mengenakkan. “Harusnya kita naik double cabin atau jeep,” ujarnya.
Back To Top