-->
Motivasi Menulis

Berburu Manisan Pala di Kota Naga

Sumber Foto : Internet
Penulis : Teuku Multazam
   


KETIKA mengunjungi suatu daerah, kurang elok rasanya jika kita tidak membeli jajanan khas daerah tersebut sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah sebagai hadiah bagi kerabat dan keluarga, meskipun hanya sedikit. Kondisi demikian juga saya alami ketika berkunjung ke Tapaktuan, ibu kota Kabupaten Aceh Selatan pada Selasa lalu bersama Dr Teuku Muttaqin Mansur dan Rahmi Fajri.

Kami berangkat dari Banda Aceh sekira pukul 15.45 WIB dengan mobil. Melaju dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam, selang 20 menit kemudian kami tiba di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Kenderaan yang disopiri Teuku Muttaqin perlahan menjauhi kecamatan tersebut dan sekira pukul 17.15 WIB kami tiba di Masjid Sabang, Kecamatan Lamno, Aceh Jaya, setelah melintasi tiga gunung tinggi, yaitu Gunung Paro, Kulu, dan Geurutee.

Selama kami melintasi wilayah itu panorama alam dan hutannya masih terlihat cantik dan alami. Apalagi hampir sepanjang jalan kami bisa menikmati pemandangan laut biru dan teduh yang memesona.

Seusai kami shalat dan beristirahat beberapa saat di masjid tersebut, perjalanan kami lanjutkan. Teuku Muttaqin yang sudah merasa lelah selanjutnya menyerahkan kunci mobil kepada saya untuk menggantikannya mengemudi. Awalnya, saya merasa khawatir dan sedikit gugup mengemudi karena belum punya berpengalaman menyetir di wilayah yang banyak kelok dan jurang dalamnya ini.

Dengan mengucapkan Bismillah hi tawakkaltu Allallah, mobil yang saya kemudikan meninggalkan masjid. Didampingi oleh Rahmi Fajri di kursi sebelah, saya selalu menanyakan arah jalan kepadanya ketika melihat persimpangan.

Kurang lebih tiga setengah jam kemudian kami tiba di Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat. Setelah menunaikan shalat Isya dan beristirahat sejenak sambil mencicipi durian, kami lanjutkan perjalanan ke Nagan Raya. Karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan, kami beristirahat di sana selama satu malam.

Esoknya, perjalanan kembali kami lanjutkan ke Kota Naga, julukan Kabupaten Aceh Selatan. Kali ini, giliran Rahmi Fajri yang mengemudikan mobil yang kami rental.

Melaju dengan kecepatan rendah, perlahan kami meninggalkan Kota Nagan Raya. Perjalanan dari Nagan Raya ke Aceh Selatan dengan jarak tempuh sekira 160 km berhasil kami lalui sekitar lima setengah jam.


Setelah beristirahat dan menyegarkan diri beberapa saat pada salah satu hotel di Tapaktuan, selanjutnya kami kopi darat (kopdar) sembari bersilaturahmi dengan teman-teman di salah satu warung kopi di pusat Kota Naga. Sambil menunggu racikan kopi diseduh, kami berbincang tentang berbagai hal, mulai dari perkuliahan hingga jajanan apa yang khas dibawa pulang dari Kota Naga ini ke Banda Aceh.

Muttaqin kemudian menanyakan lokasi penjualan minyak pala kepada salah satu mantan mahasiswanya yang nimbrung bersama kami di warung kopi tersebut. “Ada, Pak. Kebetulan di kampung saya ada tempat penyulinganya, besok kita ke sana,” kata Eri, mantan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, tempat Muttaqin mengajar.

Esoknya, sekira pukul 09.20 WIB, kami lanjutkan perjalanan ke beberapa desa di Batu Raja dan Kecamatan Kluet, untuk pengambilan data. Perjalanan menuju ke sana didampingi oleh teman saya, Bakriudin.


Selepas pengambilan data, kami kembali ke Tapaktuan dan mencari jajanan khas Kota Naga untuk dijadikan oleh-oleh dibawa ke Banda Aceh. Bakri yang merupakan salah satu dosen Politeknik Aceh Selatan dan penduduk asli Tapaktuan membawa kami ke sebuah toko tempat penjualan oleh-oleh khas Kota Naga. Toko itu terletak di Jalan Habib Muhammad Syarif, Gampong Hilir, tak jauh dari pusat Kota Tapaktuan. Ya, hanya butuh sekitar sepuluh menit dari tempat kami menginap.

Untuk sampai ke toko tersebut, sekira tiga persimpangan harus kami lintasi jika melaju dari arah Aceh Barat Daya. Jalanya beraspal dan mulus.

Terdapat banyak oleh-oleh khas Aceh Selatan di toko ini, terutama manisan pala dan minyak pala. Ada beberapa jenis model manisan pala yang berhasil diolah di sini, yaitu manisan bunga pala, manisan kolak pala, manisan pala basah, dan manisan rujak pala. Lezat, berasa, dan nikmat, itulah ungkapan saya seusai mencicip manisan yang disodorkan Mestika, salah satu anak dari pemilik toko oleh-oleh tersebut.

Dia jelaskan bahwa proses pengolahan daging buah pala butuh waktu kurang lebih satu minggu. Banyak tahapan yang harus dilalui untuk proses ini. Misalnya, perendaman daging buah pala menggunakan air laut setelah dikupas. Tahapan ini bertujuan menghilangkan rasa kelat pada buah pala dan dilakukan selama beberapa malam.

Proses selanjutnya adalah perebusan dan perendaman dengan air panas. Ini bertujuan untuk membersihkan buah pala serta memasukkan gula dan aneka rasa ke dalamnya. Setelah tahapan ini selesai, tahapan terakhir adalah menjemur palah di bawah terik matahari.

Durasi waktu yang dibutuhkan untuk proses ini hanya beberapa jam. “Ini tergantung jenis manisan yang kita inginkan,”kata Mestika yang terlihat sangat profesional menjelaskan proses pengolahan buah pala menjadi kuliner yang maknyus.

Bagi teman-teman yang ingin merasakannya, saya rekomendasikan makanlah manisan pala ini. Selain lezat, harganya juga murah, juga berkhasiat untuk mengusir angin jenuh di perut. “Untuk manisan ini, harganya bervariasi, mulai dari 5 ribu hingga 9 ribu rupiah setiap kotaknya, “demikian penjelasan Mestika di ujung tanya jawab kami. Ayo buruan ke sana!

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Berburu Manisan Pala di Kota Naga, https://aceh.tribunnews.com/2019/07/03/berburu-manisan-pala-di-kota-naga?page=2.

Penggunaan PLTS Sabang Terkendala Urusan Hibah

Penggunaan PLTS Sabang Terkendala Urusan Hibah

Dikutip dari portal berita kantor berita Aceh (KBA.One)-Deretan panel surya yang dipasang di daerah Cot Abeuk, Kecamatan Sukajaya, Sabang, mulai ditutupi dengan semak-semak. Sama nasibnya seperti pagar yang menutupi areal Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sistem hybrid itu.
Pembangkit listrik ini dibangun dengan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2015. Pembangunannya selesai pada awal Februari 2016. PLTS itu terdiri dari 14 inverter. Satu inverter menghasilkan 25 kwp. Total yang dihasilkan dari inverter itu mencapai 350 kwp.
“Kami menyurati Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Terbarukan Kementerian ESDM-RI terkait pelimpahan pengelolaan PLTS Hybrid 350 Kwp di Gampong Cot Abeuk pada tanggal 24 Maret 2017,” kata Kepala Bagian Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Sabang, A Kadir, 21 Februari 2018.
Alat-alat energi terbarukan ini dikelola oleh PT Perusahaan Listrik Negara. Pemerintah Kota Sabang hanya akan menanggung biaya jika pengalihan aset dari Pemerintah Pusat ke pemerintah kota selesai.
Menurut Kadir, sebulan setelah surat itu dikirimkan, Kementerian menyampaikan pesan agar pemerintah kota berkoordinasi dengan PLN untuk mengoperasikan ladang energi itu.
“Saat ini PLTS sudah beroperasi, tapi masih dalam tahap percobaan. Arus yang dihasilkan langsung dikoneksi ke mesin induk milik PLN,” kata Kadir.
Kadir berharap proses hibah selesai tahun ini. Dengan demikian, Pemerintah Kota Sabang memperoleh pendapatan dari menjual listrik ini ke PLN dari arus yang dihasilkan PLTS tersebut.
Meski tak cukup untuk menutupi kebutuhan listrik Sabang yang mencapai 5,4 Mega Watt, T Multazam Mansur,  peneliti Geuthee Institute, menilai PLTS ini sangat strategis untuk dikembangkan di Indonesia yang hanya memiliki dua musim.
Panel surya juga memiliki masa pakai yang relatif lama. Satu panel surya dengan kualitas standar internasional, kata Multazam, dapat bertahan hingga 25 tahun.
“Kebutuhan akan energi terbarukan masih sangat besar. Keberhasilan PLTS Sabang mungkin dapat mengubah model pembangunan energi Aceh di masa mendatang,” kata  Multazam.
Energi yang dihasilkan dari PLTS Sabang bisa mengaliri rumah 26 unit yang menggunakan ukuran 1.300 watt. Pasokan listik ini akan sangat membantu mencukupi kebutuhan listrik Sabang yang sedang berkembang.
http://www.kba.one/news/penggunaan-plts-sabang-terkendala-urusan-hibah/index.html
Jejak Masjid Tgk Dipucok Krueng

Jejak Masjid Tgk Dipucok Krueng



Meureudu adalah ibukota Kabupaten Pidie Jaya. Kabupaten tersebut terbentuk pada 2 Januari 2007 berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2007. Pidie Jaya memiliki delapan kecamatan, 34 mukim dan 221 gampong.

Pidie Jaya yang berbatasan di sebelah Utara dengan Selat Malaka, Timur dengan Kabupaten Bireuen,Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pidie (Tangse, Geumpang dan Mane) dan Barat berbatasan dengan Kecamatan Geuleumpang Tiga, Kabupaten Pidie memiliki potensi pariwisata yang sangat bagus.  Secara Pidie Jaya memiliki sebanyak 46 obyek wisata yang terdiri dari 17 obyek wisata alam, 33 obyek wisata budaya.

Semasa kerajaan Aceh, Meureudu pernah dicalonkan sebagai ibu kota Kerajaan Aceh.  Akibat konspirasi politik kerajaan, rencana tersebut digagalkan. Meski bukan sebagai ibukota Kerajaan, Mereudu kala itu sangat diistimewakan karean bebas dari berbagai aturan. Hal ini bukan berarti wilayah tersebut bebas dari kewajibannya. Tugas sebagai penyediaan logistik untuk kebutuhan kerajaan Aceh berhasil laksanakan.


Sebelum melakukan penyerangan ke Semenanjung Melayu, Sultan Iskandar Muda singgah di Mereudu untuk menjumpai sejumlah tokoh di wilayah itu. Beliau mengangkat Malem Dagang dan Teungku Japakeh sebagai pimpinan perang tersebut. Dan, mereka berhasil menaklukkannya.

Mesjid Teungku Dipucok Krueng

Kini, Meureudu sudah menjadi pusat pemerintahan kabupaten Pidie Jaya.  Di beberapa tempat, ada peninggalan-peninggalan sejarah yang masih terisisa dan bisa dikunjungi. Sekitar tiga kilometer dari pusat pemerintahan Pidie Jaya, sebuah masjid tua yang kubahnya menyerupai seperti kubah sejumlah mesjid di Madinah, Arab Saudi. Masjid itu terletak di Simpang Beuracan, Gampong Kuta Trieng.

Masjid itu dinamakan sebagai mesjid Tgk Dipucok Krueng dan dibangun oleh Tgk Abdussalim diatas tanah wakaf milik warga. Beliau merupakan salah satu warga Arab Saudi yang ingin menyiarkan Islam di Aceh semasa kerajaan Iskandar Muda, kata Tgk Ismail bilal mesjid Tgk Dipucok Krueng beberapa waktu lalu.


Menurut dia, penamaan mesjid itu diberikan karena Tgk Abdussalim ketika itu menetap di Pucok Krueng (pucuk sungai) Beuracan, disana beliau juga bermunajat kepada ALLAH. Ketika Jumat, beliau turun ke Mesjid untuk menunaikan kewajibannya, sebut dia. Di kompleks sebuah guci besar yang terisi air.

“Meski saat diisi air itu kotor, namun setelah diambil kembali ke dalamnya, airnya sudah sangat jernih,” kata Khaidir, salah seorang warga disana. Guci tersebut kini tertanam dia dalam tanah, hanya bagian leher dan mulut gucinya yang nampak,  namun kain putih dipasang sebagai pembatas dan kain penutup tersebut.

Tgk Abdussalim merupakan salah seorang ulama besar, untuk membangun masjid tersebut beliau juga membuka lahan persawahan seluas 50 hektar dan tanah perkebunan di lingkungan mesjid seluas 6 hektar, yang hasilnya digunakan untuk membiayai pembangunan masjid.

Masjid Tgk Dipucok Krueng,  memiliki tiga atap tumpang yang terbuat dari seng, dinding yang terbuat dari kayu-kayu. Kini kayu-kayu aslinya sudah diganti dengan kayu lain yang diukir dengan motif Aceh.

Sebanyak 16 tiang digunakan sebagai penopang atap bagian atas. Masing-masing tiang tersebut berbentuk segi delapan dan satu buah tiang. Lantainya terbuat dari semen ditambah gapu dan manisan.

Pada sisi barat bangunan inti terdapat bagian yang menjorok keluar ynag difungsikan sebagai mihrab. Di dalamnya terdapat sebuah mimbar dari tembok semen dengan cat putih dan atap dari tirap/kayu dengan pola hias sulur-suluran dan bunga. Didalamnya juga terdapat sebuah bedug yang terbuat dari kulit sapi dan batang pohon lontar. Bedug itu biasanya digunakan ketika Ramadhan tiba.

Selain membangun mesjid di Beuracan, Tgk Abdussalim juga membangun empat mesjid lain, diantaranya; masjid Tgk Dipucok Krueng, masjid  Kuta Batei, mesjid Madinah dan mesjid di Lampoh Saka Kabupaten Pidie.

Penulis : Teuku Multazam
  Menyelamatkan Identitas Bangsa

Menyelamatkan Identitas Bangsa


A. Rahman Kaoy berbincang serius dengan sejumlah tokoh adat di Aceh. Siang itu, Kamis pekan lalu, Rahman dan sejumlah pemuka adat Aceh berkumpul untuk membahas sejumlah agenda pelestarian budaya. “Ada beberapa poin yang harus dilakukan bersama-sama pemuka adat Aceh untuk melestarikan adat Aceh. Termasuk untuk menjaga kelangsungan bahasa Aceh,” kata Rahman sejarawan Aceh dan juga Wakil Ketua Majelis Adat Aceh.

Bahasa Aceh memang menarik perhatian Rahman. Ia tak ingin bahasa yang ada di Aceh punah dan ditinggalkan masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah kata dalam bahasa pesisir Aceh yang mulai jarang didengar karena tergantikan bahasa lain. “Seperti kata do. Artinya ayah, dan ma yang berarti ibu. Itu sudah jarang kita dengar  karena saat ini masyarakat lebih mengenal kata-kata abu, abi, ayah,” ungkap Rahman.

Menurut Rahman, semua bahasa yang dimiliki suku-suku di Aceh adalah Bahasa Aceh. Hal ini sudah berlangsung sejak 881 Hijriah, pada masa Kerjaaan Aceh Darussalam. Namun dalam kerajaan Aceh saat itu, tidak ada penekanan satu bahasa untuk satu kerajaan. Karena berasal dari beragam suku, kerjaaan Aceh memberikan kebebasan kepada seluruh masyarakat Aceh yang terbentang dari Aceh, Riau, Malaysia sampai ke Brunai Darussalam, untuk menggunakan bahasa masing-masing.


“Di Aceh modern, ada sekitar tujuh bahasa. Seperti jamee, yang merupakan campuran bahasa Aceh dan Minang, ada juga bahasa Gayo dan Alas,” katanya. Namun kerajaaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Salahuddin Syamsu Syah menggunakan satu bahasa resmi sebagai bahasa pengantar, yakni bahasa melayu. Bahasa ini digunakan sebagai bahasa persatuan. Persis seperti bahasa Indonesia saat ini yang digunakan sebagai pengantar resmi.”

Sejumlah dokumen juga ditulis menggunakan tulisan Arab Melayu. Dan dipakai di seluruh kerajaan Aceh.

Bahasa Aceh pesisir dikenal karena cenderung enak didengar. Kata-kata itu umumnya kata-kata yang pendek. Seperti untuk menyebut “air kelapa”, dalam bahasa Aceh, penyebutannya cukup dengan dua kata “i u”.  Begitu juga dengan “nasi” disebut “bu”. Ragam budaya yang masuk ke Aceh juga membuat perubahan bahasa terjadi. Sejumlah kata dalam bahasa Aceh pesisir diadaptasi dari bahasa Arab. Seperti pisau; sikin  dan sejumlah kata lainnya.

Selain itu, bahasa Aceh juga dikenal karena halus. Bahasa Aceh memiliki tutur yang untuk mengekspresikan rasa hormat kepada seseorang. Sehingga mudah bagi seseorang untuk mempelajarinya. “Bahasa Aceh adalah bahasa yang mudah dipelajari. Bahkan untuk orang asing sekalipun.”

A. Rahman Kaoy berbincang serius dengan sejumlah tokoh adat di Aceh. Siang itu, Kamis pekan lalu, Rahman dan sejumlah pemuka adat Aceh berkumpul untuk membahas sejumlah agenda pelestarian budaya. “Ada beberapa poin yang harus dilakukan bersama-sama pemuka adat Aceh untuk melestarikan adat Aceh. Termasuk untuk menjaga kelangsungan bahasa Aceh,” kata Rahman sejarawan Aceh dan juga Wakil Ketua Majelis Adat Aceh.

Bahasa Aceh memang menarik perhatian Rahman. Ia tak ingin bahasa yang ada di Aceh punah dan ditinggalkan masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah kata dalam bahasa pesisir Aceh yang mulai jarang didengar karena tergantikan bahasa lain. “Seperti kata do. Artinya ayah, dan ma yang berarti ibu. Itu sudah jarang kita dengar  karena saat ini masyarakat lebih mengenal kata-kata abu, abi, ayah,” ungkap Rahman.

Menurut Rahman, semua bahasa yang dimiliki suku-suku di Aceh adalah Bahasa Aceh. Hal ini sudah berlangsung sejak 881 Hijriah, pada masa Kerjaaan Aceh Darussalam. Namun dalam kerajaan Aceh saat itu, tidak ada penekanan satu bahasa untuk satu kerajaan. Karena berasal dari beragam suku, kerjaaan Aceh memberikan kebebasan kepada seluruh masyarakat Aceh yang terbentang dari Aceh, Riau, Malaysia sampai ke Brunai Darussalam, untuk menggunakan bahasa masing-masing.


“Di Aceh modern, ada sekitar tujuh bahasa. Seperti jamee, yang merupakan campuran bahasa Aceh dan Minang, ada juga bahasa Gayo dan Alas,” katanya. Namun kerajaaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Salahuddin Syamsu Syah menggunakan satu bahasa resmi sebagai bahasa pengantar, yakni bahasa melayu. Bahasa ini digunakan sebagai bahasa persatuan. Persis seperti bahasa Indonesia saat ini yang digunakan sebagai pengantar resmi.”

Sejumlah dokumen juga ditulis menggunakan tulisan Arab Melayu. Dan dipakai di seluruh kerajaan Aceh.

Bahasa Aceh pesisir dikenal karena cenderung enak didengar. Kata-kata itu umumnya kata-kata yang pendek. Seperti untuk menyebut “air kelapa”, dalam bahasa Aceh, penyebutannya cukup dengan dua kata “i u”.  Begitu juga dengan “nasi” disebut “bu”. Ragam budaya yang masuk ke Aceh juga membuat perubahan bahasa terjadi. Sejumlah kata dalam bahasa Aceh pesisir diadaptasi dari bahasa Arab. Seperti pisau; sikin  dan sejumlah kata lainnya.

Selain itu, bahasa Aceh juga dikenal karena halus. Bahasa Aceh memiliki tutur yang untuk mengekspresikan rasa hormat kepada seseorang. Sehingga mudah bagi seseorang untuk mempelajarinya. “Bahasa Aceh adalah bahasa yang mudah dipelajari. Bahkan untuk orang asing sekalipun.”

Ketua Pusat Studi Bahasa Aceh (PUSPADA), Muhammad Harun, mengatakan hal sama. Menurutnya sejak zaman kerajaan bahasa Aceh sudah digunakan saat itu namun tidak dijadikan sebagai bahasa kepemerintahan. “Semasa kerajaan Aceh berdiri, bahasa yang digunakan bukan bahasa pesisir. Karena orang yang bekerja di kerajaan saat itu banyak orang pesisir maka banyak yang berasumsi bahasa digunakan  adalah bahasa pesisir,” jelas Harun.

Tapi, kata Harun, sensus yang dilakukan Belanda pada 1930-an menyebutkan sekira 74 persen masyarakat Aceh memakai bahasa pesisir. Harun menambahkan, di Aceh sendiri, sedkitnya terdapat 10 bahasa daerah. Di antaranya, Aceh pesisir, Gayo, Tamiang, Alas, Haaloban, Jamee, Singkil, Sigulai dan Devayan.

Harun jug atidak menapik sejumlah kosa kata yang mulai hilang. Selama ini, bahasa Aceh yang lalu kosa kata nya sudah banyak dilupakan. Generasi baru Aceh sudah memadukan bahasa daerah masing-masing dengan bahasa luar. “Bahkan terkesan, bahasa Aceh hanya menjadi bahasa kedua. Padahal itu adalah bahasa ibu,” ujarnya.


Untuk melestarikan kembali bahasa Aceh maka media sangat berperan penting terutama media massa. Pemerintah Aceh harus segera memikirkan masalah ini agar bahasa Aceh bisa dilestarikan kembali. Senada Harun, Rahman juga mengingatkan agar lingkungan tetap mengajarkan bahasa daerah masing-masing sebagai bahasa utama untuk menjaga kelestarian bangsa, “karena bahasa adalah identitas bangsa,” kata Harun

Penulis : Teuku Multazam
Back To Top