-->
Motivasi Menulis

BAHAYA SMARTPHONE DALAM BERSILATURAHMI

Smartphone atau telepon cerdas merupakan salah satu produk teknologi yang memiliki kehebatan yang sangat luar biasa. Melalui alat tersebut banyak hal positif telah didapatkan, misalnya kita bisa mengupdate informasi dari berbagai belahan dunia sekalipun kita berada di kampong-kampung terdalam. Begitu juga dengan hal silaturahmi, kita bisa menegur saudara-saudara atau teman-teman yang jauh  entah dimana.  LUAR BIASA!, itulah kalimat yang paling pantas saya sematkan untuk penemu teknologi tersebut.


Zaman semakin bertukar, perkembangan teknologi smartphone semakin hebat, penggunanya semakin banyak tetapi yang disayangkan pemanfaatan untuk nilai positifnya mulai memudar. Salah satu contohnya dapat dilihat ketika  seseorang bersilaturahmi atau bertemu dengan teman pada suatu tempat. Banyak dari para user smartphone lebih mengutamakan telepon cerdasnya dari pada mengobrol dengan teman yang duduk semeja dengannya, dengan kata lain mereka lebih mengutamakan teman jauh dibandingkan dengan teman atau dengan bahasa keras lagi yaitu, Smarphone menjadikan teman dekat menjadi jauh, teman jauh belum pasti mendekat.

Ungkapan itu bukan sekadar omdo alias omong doang tapi juga penulis alami. Pernah suatu ketika saya mengajak seorang teman untuk bertemu di sebuah warung kopi di Banda Aceh. Pertemuan itu bertujuan untuk menyambung silaturahmi yang hampir dua tahun tidak terjalin. Maklum, saya meninggalkan Banda Aceh untuk melanjutkan studi  di Pulau Jawa.Singkat cerita kami berjanji untuk bertemu setelah shalat insya atau sekira pukul 20.05 sambil minum kopi tetapi dia baru datang setelah satu jam saya menunggu. Ketika dia muncul di hadapanku, langsung bersalaman dengannya sambil menanyakan kenapa harus lama dia tiba di tempat ini. Padahal dari estimasi saya berdasarkan jarak anatara posisi dia dan tempat kami untuk mencicipi kopi paling maksimal 30 menit. Lalu ia menjawab bahwa di tempatnya itu ada sedikit acara yang tidak bisa langsung ditinggalkan, saya memakluminya.

Wes lah!,  yang penting teman saya itu sudah datang. Setelah dia memesan kopi, kami langsung menanyakan kabar masing-masing dan kegiatan yang dilakukan selama ini mulai dari pekerjaan, studi hingga rencana untuk melanjutkan studi belajar ke jenjang berikutnya.

Hanya beberapa menit mungkin suasana silaturahmi kami terjalin baik selebihnya passive, dia kebanyakan memainkan keypad androidnya dibandingkan saling menyapa, padahal tujuan utama kami adalah untuk saling bersilaturahmi.  Saya heran, entah karena penting untuk menjawab email dari pimpinan tempat dirinya bekerja, atau revisi paper atau apalah dari pembimbingnya yang harus ia selesaikan dalam waktu ketika itu.  Entahlah!, saya masih tetap berhusnuzon terhadap teman itu.     

Sambil meneguk teh hijau ¾ panas, secara tidak sengaja saya melihat ke layar smarphone/android milik teman sayaa. Ternyata dia sedang melihat pesan dari FB massegger, dan sesekali terlihat membuka aplikasi whats up (WA). Ndak tau saya entah apa dibicarkan, pekerjaankah?, masa depankah? Sekolahkah? atau silaturahmi dengan teman-temannya yang jauh entah dimana?. Yang pasti saya melihat wajahnya tersenyum dan tidak serius ketika jemarinya ia mainkan di atas android tersebut, sehingga saya menilai bahwa level urgensi untuk membalas pesan itu tidak begitu penting.  Beberapa kali saya mengajak untuk berdikussi dan share informasi dan ilmu dari masing-masing kami, dia terlihat acuh tak acuh  bahkan ia masih tetap memainkan jemarinya di atas smartphone.  

Karena kondisinya terlihat sibuk dengan androidnya, saya lalu mengajak dia untuk pulang. Awalnya dia protes karena baru sebentar bersilaturahmi sudah diajak pulang. Saya pun menjelaskan ke dia, untuk apa berlama-lama di sini jika saudara sibuk dengan androidnya padahal kita ketemuan untuk silaturahmi, mendingan pulang ke rumah aja agar lebih bermanfaat. Setelah membayarkan uang kopi lalu kami meninggalkan warung tersebut.

Berdasarkan ilustrasu di atas, ada beberapa effect negative jika kita bersilaturahmi (ketemuan) membawa smarphone ataya telepon pintar antara lain;
1.       Yang Dekat Terasa Jauh
Hal ini terlihat ketika para pihak passive dalam dalam melakukan interaksi karena kesibukan bermain dengan smartphone sehingga silaturahim yang bertujuan untuk mendekatkan menjadi sebaliknya yaitu  menjadi terasa jauh meskipun saling berhadap-hadapan.
.
2.       Yang Jauh Belum Tentu Mendekat

Meskipun interaksi sering digunakan para pihak melalui dunia smart phone belum tentu kedekatan dengan lawan bicara sudah sangat dekat sebab kedekatan yang baik dinilai seberapa banyak intesitas bertatap muka dilakukan.

Hal tersebut sejalan dengan hadist Rasullullah yang artinya orang yang baik dalam bersilaturahmi adalah orang yang memiliki intensitas tinggi dalam mengunjunginya.
(Rerensi)


 Oleh karena itu mari kita jadikan kehadiran teknogi smartphone memberikab dampak positiv dalam bersilaturahmi bukan sebaliknya.


Ada beberapa solusi agar dampak positif dari penggunaan smartphobe dalam silaturahmi dapat terbina dengan baik diantarannya.
1. Ketika kita bersilaturahmi dengan siapapun maka tinggalkan semantara dunia smartphone, fokus pada pembicaaran dari teman Kita. Jikalau ingin memantau pesan masuk maka lihat waku yang pas dimana teman atau lawan bicara sudah tidak lagi sedang  berdiskusi atau share informasi.
2. Kalau ada panggilan atau pesan penting masuk ke smarphone, mohon izin dulu terhadap teman untuk membalasnya sehingga teman kita merasa dihargai oleh kita.

Dengan beberapa solusi ini maka imej  smartphone berdampak negatif terhadap silaturahmi mampu kita ubah menjadi  smarphone berdampak positive dalam bersilaturahmi.


Waalahuam bisawab



Slam silaturahmi.
0 Komentar untuk "BAHAYA SMARTPHONE DALAM BERSILATURAHMI"

Back To Top