-->
Motivasi Menulis

Perjuangan Menuju Gelar Sarjana

 Di siang terik, ketika matahari menyengat dan banyak teman-teman seusianya menghabiskan waktu untuk santai, Syukri rela kulitnya dibakar terik. Ia tak ingin menyia-nyiakan waktu. Di atas becaknya, ia menanti penumpang, menunggui recehan rezeki.

Tak ada malu, menjaga gengsi atau minder. Baginya, membuang waktu untuk menikmati sisa masa muda tak penting. Hanya ada satu tujuan di otaknya, berjuang keras untuk menyambung pendidikan yang nyaris terputus direnggut kemiskinan. “Yang penting halal. Semua akan saya lakukan,” kata Syukri.

Syukri kini kuliah di Universitas Serambi Mekkah (USM). Ia mengandalkan biaya hidup dan kuliahnya di Banda Aceh dengan bekerja menjadi tukang becak. Tak pernah ia mengandalkan uang kiriman orang tua, seperti mahasiswa lain.

“Bagaimana saya berharap kiriman. Orang tua saya hidupnya pun pas-pas di kampung,” katanya. Sejak datang ke Banda Aceh tahun 2004 silam, pemuda asal Pidie Jaya ini hanya punya satu tujuan, menuntut ilmu dan kelak ingin membahagiakan orang tuanya. Tapi, ia tak ingin menjadi beban.

Sebelum masuk USM, ia kuliah di program diploma dua Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) dan selesai tahun 2006. “Selama kuliah di PGSD, saya membantu berjualan di tempat orang dan jadi buruh bangunan. Dengan uang itu, alhamdulillah saya bisa menyelesaikan program diploma,” kenang Syukri.

Setelah dia menyandang gelar diploma, dia tidak langsung melanjutkan kuliah ke tingkat sarjana. Ia mencoba peruntungan, mencari kerja dengan mengandalkan ijazah yang ada.

Proses pencarian kerja hampir setahun lamanya, tapi ia terus menganggur.

“Saya waktu itu hampir putus asa, karena tidak ada pekerjaan. Tapi, saya sangat bersyukur. Waktu itu ada seorang kawan yang punya becak, menawarkan saya untuk membawa becaknya. Spontan saya mengatakan ya, karena memang kerja lain pun tidak ada,” ujarnya.

Walaupun orang berasumsi pekerjaan tukang becak rendah, Syukri tidak peduli. Ia malah bangga, karena rezekinya halal.

“Uang yang saya dapat ini benar-benar hasil kerja keras saya. Saya juga bangga, karena bisa menghidupi saya sendiri. Banyak mahasiswa sekarang hidup di Banda Aceh mengandalkan kiriman orang tua. Tapi, saya cuma mengandalkan becak,” sebutnya.

Dari becak itu, Syukri kini setiap hari menabung Rp25.000. Dengan uang itu ia melanjutkan studinya ke tingkat sarjana. “Sebelum masuk kuliah ke USM, saya menabung hampir enam bulan,” kenangnya.

“Saya bangga dengan rutinitas saya sepulang kuliah. Bawa becak. Insya Allah, dengan usaha ini, saya akan menyelesaikan S-1, bahkan mungkin bisa jadi S-2,” ujar Syukri sambil tersenyum.

Syukri berharap Pemerintah Aceh membantu seluruh mahasiswa yang sedang menuntut ilmu di Banda Aceh tapi terkendala dengan dana, sehingga kemampuan yang dimiliki seorang anak miskin sepertinya bisa dilanjutkan.

“Tolong bantu kawan-kawan yang memiliki kecerdasan otak, tapi sangat terkendala dengan dana. Dengan demikian, pendidikan Aceh ke depan akan lebih maju,” pintanya.

Labels: belajar, inspirasi, usaha

Thanks for reading Perjuangan Menuju Gelar Sarjana. Please share...!

0 Komentar untuk "Perjuangan Menuju Gelar Sarjana"

Back To Top