-->
Motivasi Menulis
  Menyelamatkan Identitas Bangsa

Menyelamatkan Identitas Bangsa


A. Rahman Kaoy berbincang serius dengan sejumlah tokoh adat di Aceh. Siang itu, Kamis pekan lalu, Rahman dan sejumlah pemuka adat Aceh berkumpul untuk membahas sejumlah agenda pelestarian budaya. “Ada beberapa poin yang harus dilakukan bersama-sama pemuka adat Aceh untuk melestarikan adat Aceh. Termasuk untuk menjaga kelangsungan bahasa Aceh,” kata Rahman sejarawan Aceh dan juga Wakil Ketua Majelis Adat Aceh.

Bahasa Aceh memang menarik perhatian Rahman. Ia tak ingin bahasa yang ada di Aceh punah dan ditinggalkan masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah kata dalam bahasa pesisir Aceh yang mulai jarang didengar karena tergantikan bahasa lain. “Seperti kata do. Artinya ayah, dan ma yang berarti ibu. Itu sudah jarang kita dengar  karena saat ini masyarakat lebih mengenal kata-kata abu, abi, ayah,” ungkap Rahman.

Menurut Rahman, semua bahasa yang dimiliki suku-suku di Aceh adalah Bahasa Aceh. Hal ini sudah berlangsung sejak 881 Hijriah, pada masa Kerjaaan Aceh Darussalam. Namun dalam kerajaan Aceh saat itu, tidak ada penekanan satu bahasa untuk satu kerajaan. Karena berasal dari beragam suku, kerjaaan Aceh memberikan kebebasan kepada seluruh masyarakat Aceh yang terbentang dari Aceh, Riau, Malaysia sampai ke Brunai Darussalam, untuk menggunakan bahasa masing-masing.


“Di Aceh modern, ada sekitar tujuh bahasa. Seperti jamee, yang merupakan campuran bahasa Aceh dan Minang, ada juga bahasa Gayo dan Alas,” katanya. Namun kerajaaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Salahuddin Syamsu Syah menggunakan satu bahasa resmi sebagai bahasa pengantar, yakni bahasa melayu. Bahasa ini digunakan sebagai bahasa persatuan. Persis seperti bahasa Indonesia saat ini yang digunakan sebagai pengantar resmi.”

Sejumlah dokumen juga ditulis menggunakan tulisan Arab Melayu. Dan dipakai di seluruh kerajaan Aceh.

Bahasa Aceh pesisir dikenal karena cenderung enak didengar. Kata-kata itu umumnya kata-kata yang pendek. Seperti untuk menyebut “air kelapa”, dalam bahasa Aceh, penyebutannya cukup dengan dua kata “i u”.  Begitu juga dengan “nasi” disebut “bu”. Ragam budaya yang masuk ke Aceh juga membuat perubahan bahasa terjadi. Sejumlah kata dalam bahasa Aceh pesisir diadaptasi dari bahasa Arab. Seperti pisau; sikin  dan sejumlah kata lainnya.

Selain itu, bahasa Aceh juga dikenal karena halus. Bahasa Aceh memiliki tutur yang untuk mengekspresikan rasa hormat kepada seseorang. Sehingga mudah bagi seseorang untuk mempelajarinya. “Bahasa Aceh adalah bahasa yang mudah dipelajari. Bahkan untuk orang asing sekalipun.”

A. Rahman Kaoy berbincang serius dengan sejumlah tokoh adat di Aceh. Siang itu, Kamis pekan lalu, Rahman dan sejumlah pemuka adat Aceh berkumpul untuk membahas sejumlah agenda pelestarian budaya. “Ada beberapa poin yang harus dilakukan bersama-sama pemuka adat Aceh untuk melestarikan adat Aceh. Termasuk untuk menjaga kelangsungan bahasa Aceh,” kata Rahman sejarawan Aceh dan juga Wakil Ketua Majelis Adat Aceh.

Bahasa Aceh memang menarik perhatian Rahman. Ia tak ingin bahasa yang ada di Aceh punah dan ditinggalkan masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah kata dalam bahasa pesisir Aceh yang mulai jarang didengar karena tergantikan bahasa lain. “Seperti kata do. Artinya ayah, dan ma yang berarti ibu. Itu sudah jarang kita dengar  karena saat ini masyarakat lebih mengenal kata-kata abu, abi, ayah,” ungkap Rahman.

Menurut Rahman, semua bahasa yang dimiliki suku-suku di Aceh adalah Bahasa Aceh. Hal ini sudah berlangsung sejak 881 Hijriah, pada masa Kerjaaan Aceh Darussalam. Namun dalam kerajaan Aceh saat itu, tidak ada penekanan satu bahasa untuk satu kerajaan. Karena berasal dari beragam suku, kerjaaan Aceh memberikan kebebasan kepada seluruh masyarakat Aceh yang terbentang dari Aceh, Riau, Malaysia sampai ke Brunai Darussalam, untuk menggunakan bahasa masing-masing.


“Di Aceh modern, ada sekitar tujuh bahasa. Seperti jamee, yang merupakan campuran bahasa Aceh dan Minang, ada juga bahasa Gayo dan Alas,” katanya. Namun kerajaaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Salahuddin Syamsu Syah menggunakan satu bahasa resmi sebagai bahasa pengantar, yakni bahasa melayu. Bahasa ini digunakan sebagai bahasa persatuan. Persis seperti bahasa Indonesia saat ini yang digunakan sebagai pengantar resmi.”

Sejumlah dokumen juga ditulis menggunakan tulisan Arab Melayu. Dan dipakai di seluruh kerajaan Aceh.

Bahasa Aceh pesisir dikenal karena cenderung enak didengar. Kata-kata itu umumnya kata-kata yang pendek. Seperti untuk menyebut “air kelapa”, dalam bahasa Aceh, penyebutannya cukup dengan dua kata “i u”.  Begitu juga dengan “nasi” disebut “bu”. Ragam budaya yang masuk ke Aceh juga membuat perubahan bahasa terjadi. Sejumlah kata dalam bahasa Aceh pesisir diadaptasi dari bahasa Arab. Seperti pisau; sikin  dan sejumlah kata lainnya.

Selain itu, bahasa Aceh juga dikenal karena halus. Bahasa Aceh memiliki tutur yang untuk mengekspresikan rasa hormat kepada seseorang. Sehingga mudah bagi seseorang untuk mempelajarinya. “Bahasa Aceh adalah bahasa yang mudah dipelajari. Bahkan untuk orang asing sekalipun.”

Ketua Pusat Studi Bahasa Aceh (PUSPADA), Muhammad Harun, mengatakan hal sama. Menurutnya sejak zaman kerajaan bahasa Aceh sudah digunakan saat itu namun tidak dijadikan sebagai bahasa kepemerintahan. “Semasa kerajaan Aceh berdiri, bahasa yang digunakan bukan bahasa pesisir. Karena orang yang bekerja di kerajaan saat itu banyak orang pesisir maka banyak yang berasumsi bahasa digunakan  adalah bahasa pesisir,” jelas Harun.

Tapi, kata Harun, sensus yang dilakukan Belanda pada 1930-an menyebutkan sekira 74 persen masyarakat Aceh memakai bahasa pesisir. Harun menambahkan, di Aceh sendiri, sedkitnya terdapat 10 bahasa daerah. Di antaranya, Aceh pesisir, Gayo, Tamiang, Alas, Haaloban, Jamee, Singkil, Sigulai dan Devayan.

Harun jug atidak menapik sejumlah kosa kata yang mulai hilang. Selama ini, bahasa Aceh yang lalu kosa kata nya sudah banyak dilupakan. Generasi baru Aceh sudah memadukan bahasa daerah masing-masing dengan bahasa luar. “Bahkan terkesan, bahasa Aceh hanya menjadi bahasa kedua. Padahal itu adalah bahasa ibu,” ujarnya.


Untuk melestarikan kembali bahasa Aceh maka media sangat berperan penting terutama media massa. Pemerintah Aceh harus segera memikirkan masalah ini agar bahasa Aceh bisa dilestarikan kembali. Senada Harun, Rahman juga mengingatkan agar lingkungan tetap mengajarkan bahasa daerah masing-masing sebagai bahasa utama untuk menjaga kelestarian bangsa, “karena bahasa adalah identitas bangsa,” kata Harun

Penulis : Teuku Multazam
Terapi Kesehatan Ala Rasullullah

Terapi Kesehatan Ala Rasullullah


Penulis : Teuku Multazam

Amiruddin cekatan mengeluarkan 12 cangkir plastik transparan dari tasnya. Di hadapannya, seorang lelaki bertubuh gempal duduk bertelanjang dada, ia duduk bersila. Setelah memilih cangkir-cangkir yang sesuai kebutuhannya, ia pun melekatkan sejumlah cangkir di bagian tengkuk, punggung dan kening.

“Awalnya bagian yang sakit kita sedot. Beberapa menit kemudian, gelas-gelas ini kita copot dan mulai membuat lubang di pori-pori dengan jarum. Kemudian, gelas-gelas ini kita pasang lagi di daerah-daerah itu untuk menyedot darah kotor,” kata Amiruddin.

Amiruddin berprofesi sebagai pembekam. Pembekaman adalah proses memantik darah dari badan menggunakan cangkir sedotan hingga kulit bengkak, kemudian bagian tubuh yang bengkak digores dengan benda tajam untuk mengeluarkan darah kotor. Bekam adalah metode pengobatan yang dipraktikkan orang sejak ribuan tahun silam.


Nabi Muhammad saw, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari, menyebut, "kesembuhan itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijamah (bekam), dan dengan besi panas. Dan aku melarang ummatku dengan besi panas.” Tradisi ini dipelajari Amiruddin dan terus dipraktikkannya.

Cangkir-cangkir yang melekat di permukaan kulit menghisap jaringan darah kotor di bawah kulit. Lama setiap hisapan antara 3-5 menit. Maksimal waktu dibutuhkan untuk membuang darah kotor adalah sembilan menit. Setelah disedot, keluar darah dari bekas cucukan jarum halus. “Warnanya macam-macam, tergantung penyakitnya,” ujar Amiruddin. Biasanya, darah kotor yang berwarna kehitam-hitaman. Bila darah kotor tidak mengalir dari pori-pori, itu menandakan penyakit di daerah itu sudah habis. Darah pun berhenti mengalir.

Bekam, atau hijamah adalah teknik penyembuhan dengan cara membuang darah kotor dalam tubuh melalui permukaan kulit. Bekam, kata Amiruddin, bisa dilakukan untuk mengobati penyakit dan pencegahannya. “Untuk kesehatan, idealnya dilakukan sebulan sekali. Namun kalau untuk penyembuhan, sebaiknya dibekam seminggu sekali atau dua minggu sekali.”

Metode pengobatan ini relatif efektif dan murah. Selain itu, bagi ummat muslim, bekam juga dikategorikan sebagai sunnah Rasulullah saw. Di Bandaaceh, sejumlah klinik kesehatan alternatif mulai menggunakan bekam sebagai teknik penyembuhan. Di kawasan Daud Beureuh misalnya, telah dibuka klinik bekam dan rukyah, tradisi mengusir jin dalam tubuh manusia.

      
Menurut Muhammad Arif,  seorang praktisi bekam, dengan manfaat kesehatan besar, bekam memiliki risiko dan efek samping yang sangat sedikit. Sebuah penelitain menunjukkan, teknik pengobatan ini mampu menyembuhkan sekira 72 penyakit. Termasuk sejumlah penyakit yang dinilai mahal pengobatannya, seperti darah tinggi, diabetes, stroke, sakit kepala, kebas, asam urat, dan rematik.

Dalam sekali pengobatan, ungkap Arif, darah kotor yang keluar mencapai dua hingga tiga cangkir bekam. Namun, tambahnya, ia pernah menangani seorang pasien di Pulo Aceh yang mengeluarkan darah kotor hingga lima cangkir bekam.

Sebelum proses pembekaman dimulai, bagian tubuh yang akan dibekam akan dibersihkan dengan cairan khusus. Khusus di bagian yang ditumbuhi bulu dan rambut, seperti kaki dan kepala, bulu-bulu itu harus dicukur terlebih dahulu. Sesuai ajaran Nabi Muhammad saw, ada beberapa titik bekam yang harus dilakukan antara lain, titik punggung, titik tangan dan titik kepala.

Ia juga menyarankan agar pembekaman dilakukan pada waktu-waktu tertentu. “Sebaiknya dilakukan pada pertengahan bulan, karena darah kotor sudah terhimpun dan lebih mudah dirangsang untuk keluar dari tubuh karena darah mencapai puncak gejolak. "Rasulullah saw juga biasa melakukan hijamah pada pelipis dan pundaknya. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, Nabi melakukan bekam pada hari ke-17, ke-19 atau ke-21.”

Pemilihan waktu bekam adalah sebagai tindakan preventif untuk menjaga kesehatan dan penjagaan diri terhadap penyakit. Adapun untuk pengobatan penyakit, maka harus dilakukan kapan pun pada saat dibutuhkan. Ia juga berpesan, “bahwa berbekam dalam keadaan perut kosong itu adalah paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan. Maka disarankan bagi yang hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-3 jam sebelumnya.”

Berbekam juga terbukti secara medis dapat menghilangkan rasa pegal berlebihan pada bahu dan sakit di tenggorokan. Untuk rasa sakit di dua titik itu, pembekaman dilakukan di daerah tengkuk. Rasa sakit di sekitarnya, seperti bagian kepala, muka, sakit gigi, telinga dan hidung, juga dapat disembuhkan, “jika penyakit itu disebabkan oleh terjadinya penyumbatan pada darah atau rusaknya jaringan darah.

Melakukan bekam di bawah dagu dapat menyembuhkan sakit gigi, sakit pada bagian wajah,kerongkongan dan pada urat leher, serta membersihkan kepala dan kedua telapak tangan. Berbekam pada belakang tapak kaki (bagian atas tapak kaki) dapat menggantikan venesection sephena, yaitu urat besar pada mata kaki, menghilangkan kutil-kutil dan borok yang tumbuh di kedua paha, betis serta tulang kering. Dapat menghentikan keluarnya darah haid (terputusnya menstruasi) dan rasa gatal di kulit testis.

Titik lain yang disarankan Arif adalah bekam di titik antara dada dan perut. Ini bisa menyembuhkan bisul, kurap, dan panu. Ada juga bekam kering  tanpa mengeluarkan darah kotor (Hijamah Jaaffah). Berbeda dengan bekam basah,. Bekam kering pertama berkhasiat melegakan sakit secara darurat, atau meringankan kenyerian urat-urat punggung karena rheumatik.

Meskipun terapi bekam ini bisa menyembuhkan penyakit, namun jika pasien mengidap penyakit parah, ia dianjurkan untuk mengonsumsi obat herbal, seperti habbatusaudah, madu dan air zam zam. Tak ada patokan harga. Namun biasanya, mereka menerima imbalan Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.


Back To Top