-->
Motivasi Menulis

Berburu Manisan Pala di Kota Naga

Sumber Foto : Internet
Penulis : Teuku Multazam
   


KETIKA mengunjungi suatu daerah, kurang elok rasanya jika kita tidak membeli jajanan khas daerah tersebut sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang ke rumah sebagai hadiah bagi kerabat dan keluarga, meskipun hanya sedikit. Kondisi demikian juga saya alami ketika berkunjung ke Tapaktuan, ibu kota Kabupaten Aceh Selatan pada Selasa lalu bersama Dr Teuku Muttaqin Mansur dan Rahmi Fajri.

Kami berangkat dari Banda Aceh sekira pukul 15.45 WIB dengan mobil. Melaju dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam, selang 20 menit kemudian kami tiba di Kecamatan Lhoknga, Kabupaten Aceh Besar.

Kenderaan yang disopiri Teuku Muttaqin perlahan menjauhi kecamatan tersebut dan sekira pukul 17.15 WIB kami tiba di Masjid Sabang, Kecamatan Lamno, Aceh Jaya, setelah melintasi tiga gunung tinggi, yaitu Gunung Paro, Kulu, dan Geurutee.

Selama kami melintasi wilayah itu panorama alam dan hutannya masih terlihat cantik dan alami. Apalagi hampir sepanjang jalan kami bisa menikmati pemandangan laut biru dan teduh yang memesona.

Seusai kami shalat dan beristirahat beberapa saat di masjid tersebut, perjalanan kami lanjutkan. Teuku Muttaqin yang sudah merasa lelah selanjutnya menyerahkan kunci mobil kepada saya untuk menggantikannya mengemudi. Awalnya, saya merasa khawatir dan sedikit gugup mengemudi karena belum punya berpengalaman menyetir di wilayah yang banyak kelok dan jurang dalamnya ini.

Dengan mengucapkan Bismillah hi tawakkaltu Allallah, mobil yang saya kemudikan meninggalkan masjid. Didampingi oleh Rahmi Fajri di kursi sebelah, saya selalu menanyakan arah jalan kepadanya ketika melihat persimpangan.

Kurang lebih tiga setengah jam kemudian kami tiba di Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat. Setelah menunaikan shalat Isya dan beristirahat sejenak sambil mencicipi durian, kami lanjutkan perjalanan ke Nagan Raya. Karena ada beberapa hal yang harus diselesaikan, kami beristirahat di sana selama satu malam.

Esoknya, perjalanan kembali kami lanjutkan ke Kota Naga, julukan Kabupaten Aceh Selatan. Kali ini, giliran Rahmi Fajri yang mengemudikan mobil yang kami rental.

Melaju dengan kecepatan rendah, perlahan kami meninggalkan Kota Nagan Raya. Perjalanan dari Nagan Raya ke Aceh Selatan dengan jarak tempuh sekira 160 km berhasil kami lalui sekitar lima setengah jam.


Setelah beristirahat dan menyegarkan diri beberapa saat pada salah satu hotel di Tapaktuan, selanjutnya kami kopi darat (kopdar) sembari bersilaturahmi dengan teman-teman di salah satu warung kopi di pusat Kota Naga. Sambil menunggu racikan kopi diseduh, kami berbincang tentang berbagai hal, mulai dari perkuliahan hingga jajanan apa yang khas dibawa pulang dari Kota Naga ini ke Banda Aceh.

Muttaqin kemudian menanyakan lokasi penjualan minyak pala kepada salah satu mantan mahasiswanya yang nimbrung bersama kami di warung kopi tersebut. “Ada, Pak. Kebetulan di kampung saya ada tempat penyulinganya, besok kita ke sana,” kata Eri, mantan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, tempat Muttaqin mengajar.

Esoknya, sekira pukul 09.20 WIB, kami lanjutkan perjalanan ke beberapa desa di Batu Raja dan Kecamatan Kluet, untuk pengambilan data. Perjalanan menuju ke sana didampingi oleh teman saya, Bakriudin.


Selepas pengambilan data, kami kembali ke Tapaktuan dan mencari jajanan khas Kota Naga untuk dijadikan oleh-oleh dibawa ke Banda Aceh. Bakri yang merupakan salah satu dosen Politeknik Aceh Selatan dan penduduk asli Tapaktuan membawa kami ke sebuah toko tempat penjualan oleh-oleh khas Kota Naga. Toko itu terletak di Jalan Habib Muhammad Syarif, Gampong Hilir, tak jauh dari pusat Kota Tapaktuan. Ya, hanya butuh sekitar sepuluh menit dari tempat kami menginap.

Untuk sampai ke toko tersebut, sekira tiga persimpangan harus kami lintasi jika melaju dari arah Aceh Barat Daya. Jalanya beraspal dan mulus.

Terdapat banyak oleh-oleh khas Aceh Selatan di toko ini, terutama manisan pala dan minyak pala. Ada beberapa jenis model manisan pala yang berhasil diolah di sini, yaitu manisan bunga pala, manisan kolak pala, manisan pala basah, dan manisan rujak pala. Lezat, berasa, dan nikmat, itulah ungkapan saya seusai mencicip manisan yang disodorkan Mestika, salah satu anak dari pemilik toko oleh-oleh tersebut.

Dia jelaskan bahwa proses pengolahan daging buah pala butuh waktu kurang lebih satu minggu. Banyak tahapan yang harus dilalui untuk proses ini. Misalnya, perendaman daging buah pala menggunakan air laut setelah dikupas. Tahapan ini bertujuan menghilangkan rasa kelat pada buah pala dan dilakukan selama beberapa malam.

Proses selanjutnya adalah perebusan dan perendaman dengan air panas. Ini bertujuan untuk membersihkan buah pala serta memasukkan gula dan aneka rasa ke dalamnya. Setelah tahapan ini selesai, tahapan terakhir adalah menjemur palah di bawah terik matahari.

Durasi waktu yang dibutuhkan untuk proses ini hanya beberapa jam. “Ini tergantung jenis manisan yang kita inginkan,”kata Mestika yang terlihat sangat profesional menjelaskan proses pengolahan buah pala menjadi kuliner yang maknyus.

Bagi teman-teman yang ingin merasakannya, saya rekomendasikan makanlah manisan pala ini. Selain lezat, harganya juga murah, juga berkhasiat untuk mengusir angin jenuh di perut. “Untuk manisan ini, harganya bervariasi, mulai dari 5 ribu hingga 9 ribu rupiah setiap kotaknya, “demikian penjelasan Mestika di ujung tanya jawab kami. Ayo buruan ke sana!

Artikel ini telah tayang di serambinews.com dengan judul Berburu Manisan Pala di Kota Naga, https://aceh.tribunnews.com/2019/07/03/berburu-manisan-pala-di-kota-naga?page=2.

Jejak Masjid Tgk Dipucok Krueng

Jejak Masjid Tgk Dipucok Krueng



Meureudu adalah ibukota Kabupaten Pidie Jaya. Kabupaten tersebut terbentuk pada 2 Januari 2007 berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2007. Pidie Jaya memiliki delapan kecamatan, 34 mukim dan 221 gampong.

Pidie Jaya yang berbatasan di sebelah Utara dengan Selat Malaka, Timur dengan Kabupaten Bireuen,Selatan berbatasan dengan Kabupaten Pidie (Tangse, Geumpang dan Mane) dan Barat berbatasan dengan Kecamatan Geuleumpang Tiga, Kabupaten Pidie memiliki potensi pariwisata yang sangat bagus.  Secara Pidie Jaya memiliki sebanyak 46 obyek wisata yang terdiri dari 17 obyek wisata alam, 33 obyek wisata budaya.

Semasa kerajaan Aceh, Meureudu pernah dicalonkan sebagai ibu kota Kerajaan Aceh.  Akibat konspirasi politik kerajaan, rencana tersebut digagalkan. Meski bukan sebagai ibukota Kerajaan, Mereudu kala itu sangat diistimewakan karean bebas dari berbagai aturan. Hal ini bukan berarti wilayah tersebut bebas dari kewajibannya. Tugas sebagai penyediaan logistik untuk kebutuhan kerajaan Aceh berhasil laksanakan.


Sebelum melakukan penyerangan ke Semenanjung Melayu, Sultan Iskandar Muda singgah di Mereudu untuk menjumpai sejumlah tokoh di wilayah itu. Beliau mengangkat Malem Dagang dan Teungku Japakeh sebagai pimpinan perang tersebut. Dan, mereka berhasil menaklukkannya.

Mesjid Teungku Dipucok Krueng

Kini, Meureudu sudah menjadi pusat pemerintahan kabupaten Pidie Jaya.  Di beberapa tempat, ada peninggalan-peninggalan sejarah yang masih terisisa dan bisa dikunjungi. Sekitar tiga kilometer dari pusat pemerintahan Pidie Jaya, sebuah masjid tua yang kubahnya menyerupai seperti kubah sejumlah mesjid di Madinah, Arab Saudi. Masjid itu terletak di Simpang Beuracan, Gampong Kuta Trieng.

Masjid itu dinamakan sebagai mesjid Tgk Dipucok Krueng dan dibangun oleh Tgk Abdussalim diatas tanah wakaf milik warga. Beliau merupakan salah satu warga Arab Saudi yang ingin menyiarkan Islam di Aceh semasa kerajaan Iskandar Muda, kata Tgk Ismail bilal mesjid Tgk Dipucok Krueng beberapa waktu lalu.


Menurut dia, penamaan mesjid itu diberikan karena Tgk Abdussalim ketika itu menetap di Pucok Krueng (pucuk sungai) Beuracan, disana beliau juga bermunajat kepada ALLAH. Ketika Jumat, beliau turun ke Mesjid untuk menunaikan kewajibannya, sebut dia. Di kompleks sebuah guci besar yang terisi air.

“Meski saat diisi air itu kotor, namun setelah diambil kembali ke dalamnya, airnya sudah sangat jernih,” kata Khaidir, salah seorang warga disana. Guci tersebut kini tertanam dia dalam tanah, hanya bagian leher dan mulut gucinya yang nampak,  namun kain putih dipasang sebagai pembatas dan kain penutup tersebut.

Tgk Abdussalim merupakan salah seorang ulama besar, untuk membangun masjid tersebut beliau juga membuka lahan persawahan seluas 50 hektar dan tanah perkebunan di lingkungan mesjid seluas 6 hektar, yang hasilnya digunakan untuk membiayai pembangunan masjid.

Masjid Tgk Dipucok Krueng,  memiliki tiga atap tumpang yang terbuat dari seng, dinding yang terbuat dari kayu-kayu. Kini kayu-kayu aslinya sudah diganti dengan kayu lain yang diukir dengan motif Aceh.

Sebanyak 16 tiang digunakan sebagai penopang atap bagian atas. Masing-masing tiang tersebut berbentuk segi delapan dan satu buah tiang. Lantainya terbuat dari semen ditambah gapu dan manisan.

Pada sisi barat bangunan inti terdapat bagian yang menjorok keluar ynag difungsikan sebagai mihrab. Di dalamnya terdapat sebuah mimbar dari tembok semen dengan cat putih dan atap dari tirap/kayu dengan pola hias sulur-suluran dan bunga. Didalamnya juga terdapat sebuah bedug yang terbuat dari kulit sapi dan batang pohon lontar. Bedug itu biasanya digunakan ketika Ramadhan tiba.

Selain membangun mesjid di Beuracan, Tgk Abdussalim juga membangun empat mesjid lain, diantaranya; masjid Tgk Dipucok Krueng, masjid  Kuta Batei, mesjid Madinah dan mesjid di Lampoh Saka Kabupaten Pidie.

Penulis : Teuku Multazam
  Menyelamatkan Identitas Bangsa

Menyelamatkan Identitas Bangsa


A. Rahman Kaoy berbincang serius dengan sejumlah tokoh adat di Aceh. Siang itu, Kamis pekan lalu, Rahman dan sejumlah pemuka adat Aceh berkumpul untuk membahas sejumlah agenda pelestarian budaya. “Ada beberapa poin yang harus dilakukan bersama-sama pemuka adat Aceh untuk melestarikan adat Aceh. Termasuk untuk menjaga kelangsungan bahasa Aceh,” kata Rahman sejarawan Aceh dan juga Wakil Ketua Majelis Adat Aceh.

Bahasa Aceh memang menarik perhatian Rahman. Ia tak ingin bahasa yang ada di Aceh punah dan ditinggalkan masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah kata dalam bahasa pesisir Aceh yang mulai jarang didengar karena tergantikan bahasa lain. “Seperti kata do. Artinya ayah, dan ma yang berarti ibu. Itu sudah jarang kita dengar  karena saat ini masyarakat lebih mengenal kata-kata abu, abi, ayah,” ungkap Rahman.

Menurut Rahman, semua bahasa yang dimiliki suku-suku di Aceh adalah Bahasa Aceh. Hal ini sudah berlangsung sejak 881 Hijriah, pada masa Kerjaaan Aceh Darussalam. Namun dalam kerajaan Aceh saat itu, tidak ada penekanan satu bahasa untuk satu kerajaan. Karena berasal dari beragam suku, kerjaaan Aceh memberikan kebebasan kepada seluruh masyarakat Aceh yang terbentang dari Aceh, Riau, Malaysia sampai ke Brunai Darussalam, untuk menggunakan bahasa masing-masing.


“Di Aceh modern, ada sekitar tujuh bahasa. Seperti jamee, yang merupakan campuran bahasa Aceh dan Minang, ada juga bahasa Gayo dan Alas,” katanya. Namun kerajaaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Salahuddin Syamsu Syah menggunakan satu bahasa resmi sebagai bahasa pengantar, yakni bahasa melayu. Bahasa ini digunakan sebagai bahasa persatuan. Persis seperti bahasa Indonesia saat ini yang digunakan sebagai pengantar resmi.”

Sejumlah dokumen juga ditulis menggunakan tulisan Arab Melayu. Dan dipakai di seluruh kerajaan Aceh.

Bahasa Aceh pesisir dikenal karena cenderung enak didengar. Kata-kata itu umumnya kata-kata yang pendek. Seperti untuk menyebut “air kelapa”, dalam bahasa Aceh, penyebutannya cukup dengan dua kata “i u”.  Begitu juga dengan “nasi” disebut “bu”. Ragam budaya yang masuk ke Aceh juga membuat perubahan bahasa terjadi. Sejumlah kata dalam bahasa Aceh pesisir diadaptasi dari bahasa Arab. Seperti pisau; sikin  dan sejumlah kata lainnya.

Selain itu, bahasa Aceh juga dikenal karena halus. Bahasa Aceh memiliki tutur yang untuk mengekspresikan rasa hormat kepada seseorang. Sehingga mudah bagi seseorang untuk mempelajarinya. “Bahasa Aceh adalah bahasa yang mudah dipelajari. Bahkan untuk orang asing sekalipun.”

A. Rahman Kaoy berbincang serius dengan sejumlah tokoh adat di Aceh. Siang itu, Kamis pekan lalu, Rahman dan sejumlah pemuka adat Aceh berkumpul untuk membahas sejumlah agenda pelestarian budaya. “Ada beberapa poin yang harus dilakukan bersama-sama pemuka adat Aceh untuk melestarikan adat Aceh. Termasuk untuk menjaga kelangsungan bahasa Aceh,” kata Rahman sejarawan Aceh dan juga Wakil Ketua Majelis Adat Aceh.

Bahasa Aceh memang menarik perhatian Rahman. Ia tak ingin bahasa yang ada di Aceh punah dan ditinggalkan masyarakat. Ia mencontohkan sejumlah kata dalam bahasa pesisir Aceh yang mulai jarang didengar karena tergantikan bahasa lain. “Seperti kata do. Artinya ayah, dan ma yang berarti ibu. Itu sudah jarang kita dengar  karena saat ini masyarakat lebih mengenal kata-kata abu, abi, ayah,” ungkap Rahman.

Menurut Rahman, semua bahasa yang dimiliki suku-suku di Aceh adalah Bahasa Aceh. Hal ini sudah berlangsung sejak 881 Hijriah, pada masa Kerjaaan Aceh Darussalam. Namun dalam kerajaan Aceh saat itu, tidak ada penekanan satu bahasa untuk satu kerajaan. Karena berasal dari beragam suku, kerjaaan Aceh memberikan kebebasan kepada seluruh masyarakat Aceh yang terbentang dari Aceh, Riau, Malaysia sampai ke Brunai Darussalam, untuk menggunakan bahasa masing-masing.


“Di Aceh modern, ada sekitar tujuh bahasa. Seperti jamee, yang merupakan campuran bahasa Aceh dan Minang, ada juga bahasa Gayo dan Alas,” katanya. Namun kerajaaan Aceh yang dipimpin oleh Sultan Salahuddin Syamsu Syah menggunakan satu bahasa resmi sebagai bahasa pengantar, yakni bahasa melayu. Bahasa ini digunakan sebagai bahasa persatuan. Persis seperti bahasa Indonesia saat ini yang digunakan sebagai pengantar resmi.”

Sejumlah dokumen juga ditulis menggunakan tulisan Arab Melayu. Dan dipakai di seluruh kerajaan Aceh.

Bahasa Aceh pesisir dikenal karena cenderung enak didengar. Kata-kata itu umumnya kata-kata yang pendek. Seperti untuk menyebut “air kelapa”, dalam bahasa Aceh, penyebutannya cukup dengan dua kata “i u”.  Begitu juga dengan “nasi” disebut “bu”. Ragam budaya yang masuk ke Aceh juga membuat perubahan bahasa terjadi. Sejumlah kata dalam bahasa Aceh pesisir diadaptasi dari bahasa Arab. Seperti pisau; sikin  dan sejumlah kata lainnya.

Selain itu, bahasa Aceh juga dikenal karena halus. Bahasa Aceh memiliki tutur yang untuk mengekspresikan rasa hormat kepada seseorang. Sehingga mudah bagi seseorang untuk mempelajarinya. “Bahasa Aceh adalah bahasa yang mudah dipelajari. Bahkan untuk orang asing sekalipun.”

Ketua Pusat Studi Bahasa Aceh (PUSPADA), Muhammad Harun, mengatakan hal sama. Menurutnya sejak zaman kerajaan bahasa Aceh sudah digunakan saat itu namun tidak dijadikan sebagai bahasa kepemerintahan. “Semasa kerajaan Aceh berdiri, bahasa yang digunakan bukan bahasa pesisir. Karena orang yang bekerja di kerajaan saat itu banyak orang pesisir maka banyak yang berasumsi bahasa digunakan  adalah bahasa pesisir,” jelas Harun.

Tapi, kata Harun, sensus yang dilakukan Belanda pada 1930-an menyebutkan sekira 74 persen masyarakat Aceh memakai bahasa pesisir. Harun menambahkan, di Aceh sendiri, sedkitnya terdapat 10 bahasa daerah. Di antaranya, Aceh pesisir, Gayo, Tamiang, Alas, Haaloban, Jamee, Singkil, Sigulai dan Devayan.

Harun jug atidak menapik sejumlah kosa kata yang mulai hilang. Selama ini, bahasa Aceh yang lalu kosa kata nya sudah banyak dilupakan. Generasi baru Aceh sudah memadukan bahasa daerah masing-masing dengan bahasa luar. “Bahkan terkesan, bahasa Aceh hanya menjadi bahasa kedua. Padahal itu adalah bahasa ibu,” ujarnya.


Untuk melestarikan kembali bahasa Aceh maka media sangat berperan penting terutama media massa. Pemerintah Aceh harus segera memikirkan masalah ini agar bahasa Aceh bisa dilestarikan kembali. Senada Harun, Rahman juga mengingatkan agar lingkungan tetap mengajarkan bahasa daerah masing-masing sebagai bahasa utama untuk menjaga kelestarian bangsa, “karena bahasa adalah identitas bangsa,” kata Harun

Penulis : Teuku Multazam
Terapi Kesehatan Ala Rasullullah

Terapi Kesehatan Ala Rasullullah


Penulis : Teuku Multazam

Amiruddin cekatan mengeluarkan 12 cangkir plastik transparan dari tasnya. Di hadapannya, seorang lelaki bertubuh gempal duduk bertelanjang dada, ia duduk bersila. Setelah memilih cangkir-cangkir yang sesuai kebutuhannya, ia pun melekatkan sejumlah cangkir di bagian tengkuk, punggung dan kening.

“Awalnya bagian yang sakit kita sedot. Beberapa menit kemudian, gelas-gelas ini kita copot dan mulai membuat lubang di pori-pori dengan jarum. Kemudian, gelas-gelas ini kita pasang lagi di daerah-daerah itu untuk menyedot darah kotor,” kata Amiruddin.

Amiruddin berprofesi sebagai pembekam. Pembekaman adalah proses memantik darah dari badan menggunakan cangkir sedotan hingga kulit bengkak, kemudian bagian tubuh yang bengkak digores dengan benda tajam untuk mengeluarkan darah kotor. Bekam adalah metode pengobatan yang dipraktikkan orang sejak ribuan tahun silam.


Nabi Muhammad saw, dalam sebuah hadist yang diriwayatkan Bukhari, menyebut, "kesembuhan itu ada pada tiga hal: dengan minum madu, pisau hijamah (bekam), dan dengan besi panas. Dan aku melarang ummatku dengan besi panas.” Tradisi ini dipelajari Amiruddin dan terus dipraktikkannya.

Cangkir-cangkir yang melekat di permukaan kulit menghisap jaringan darah kotor di bawah kulit. Lama setiap hisapan antara 3-5 menit. Maksimal waktu dibutuhkan untuk membuang darah kotor adalah sembilan menit. Setelah disedot, keluar darah dari bekas cucukan jarum halus. “Warnanya macam-macam, tergantung penyakitnya,” ujar Amiruddin. Biasanya, darah kotor yang berwarna kehitam-hitaman. Bila darah kotor tidak mengalir dari pori-pori, itu menandakan penyakit di daerah itu sudah habis. Darah pun berhenti mengalir.

Bekam, atau hijamah adalah teknik penyembuhan dengan cara membuang darah kotor dalam tubuh melalui permukaan kulit. Bekam, kata Amiruddin, bisa dilakukan untuk mengobati penyakit dan pencegahannya. “Untuk kesehatan, idealnya dilakukan sebulan sekali. Namun kalau untuk penyembuhan, sebaiknya dibekam seminggu sekali atau dua minggu sekali.”

Metode pengobatan ini relatif efektif dan murah. Selain itu, bagi ummat muslim, bekam juga dikategorikan sebagai sunnah Rasulullah saw. Di Bandaaceh, sejumlah klinik kesehatan alternatif mulai menggunakan bekam sebagai teknik penyembuhan. Di kawasan Daud Beureuh misalnya, telah dibuka klinik bekam dan rukyah, tradisi mengusir jin dalam tubuh manusia.

      
Menurut Muhammad Arif,  seorang praktisi bekam, dengan manfaat kesehatan besar, bekam memiliki risiko dan efek samping yang sangat sedikit. Sebuah penelitain menunjukkan, teknik pengobatan ini mampu menyembuhkan sekira 72 penyakit. Termasuk sejumlah penyakit yang dinilai mahal pengobatannya, seperti darah tinggi, diabetes, stroke, sakit kepala, kebas, asam urat, dan rematik.

Dalam sekali pengobatan, ungkap Arif, darah kotor yang keluar mencapai dua hingga tiga cangkir bekam. Namun, tambahnya, ia pernah menangani seorang pasien di Pulo Aceh yang mengeluarkan darah kotor hingga lima cangkir bekam.

Sebelum proses pembekaman dimulai, bagian tubuh yang akan dibekam akan dibersihkan dengan cairan khusus. Khusus di bagian yang ditumbuhi bulu dan rambut, seperti kaki dan kepala, bulu-bulu itu harus dicukur terlebih dahulu. Sesuai ajaran Nabi Muhammad saw, ada beberapa titik bekam yang harus dilakukan antara lain, titik punggung, titik tangan dan titik kepala.

Ia juga menyarankan agar pembekaman dilakukan pada waktu-waktu tertentu. “Sebaiknya dilakukan pada pertengahan bulan, karena darah kotor sudah terhimpun dan lebih mudah dirangsang untuk keluar dari tubuh karena darah mencapai puncak gejolak. "Rasulullah saw juga biasa melakukan hijamah pada pelipis dan pundaknya. Dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad, Nabi melakukan bekam pada hari ke-17, ke-19 atau ke-21.”

Pemilihan waktu bekam adalah sebagai tindakan preventif untuk menjaga kesehatan dan penjagaan diri terhadap penyakit. Adapun untuk pengobatan penyakit, maka harus dilakukan kapan pun pada saat dibutuhkan. Ia juga berpesan, “bahwa berbekam dalam keadaan perut kosong itu adalah paling baik karena dalam hal itu terdapat kesembuhan. Maka disarankan bagi yang hendak berbekam untuk tidak makan-makanan berat 2-3 jam sebelumnya.”

Berbekam juga terbukti secara medis dapat menghilangkan rasa pegal berlebihan pada bahu dan sakit di tenggorokan. Untuk rasa sakit di dua titik itu, pembekaman dilakukan di daerah tengkuk. Rasa sakit di sekitarnya, seperti bagian kepala, muka, sakit gigi, telinga dan hidung, juga dapat disembuhkan, “jika penyakit itu disebabkan oleh terjadinya penyumbatan pada darah atau rusaknya jaringan darah.

Melakukan bekam di bawah dagu dapat menyembuhkan sakit gigi, sakit pada bagian wajah,kerongkongan dan pada urat leher, serta membersihkan kepala dan kedua telapak tangan. Berbekam pada belakang tapak kaki (bagian atas tapak kaki) dapat menggantikan venesection sephena, yaitu urat besar pada mata kaki, menghilangkan kutil-kutil dan borok yang tumbuh di kedua paha, betis serta tulang kering. Dapat menghentikan keluarnya darah haid (terputusnya menstruasi) dan rasa gatal di kulit testis.

Titik lain yang disarankan Arif adalah bekam di titik antara dada dan perut. Ini bisa menyembuhkan bisul, kurap, dan panu. Ada juga bekam kering  tanpa mengeluarkan darah kotor (Hijamah Jaaffah). Berbeda dengan bekam basah,. Bekam kering pertama berkhasiat melegakan sakit secara darurat, atau meringankan kenyerian urat-urat punggung karena rheumatik.

Meskipun terapi bekam ini bisa menyembuhkan penyakit, namun jika pasien mengidap penyakit parah, ia dianjurkan untuk mengonsumsi obat herbal, seperti habbatusaudah, madu dan air zam zam. Tak ada patokan harga. Namun biasanya, mereka menerima imbalan Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu.


Back To Top